<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457</id><updated>2011-09-14T22:05:48.117+07:00</updated><category term='Kampar'/><category term='islam'/><category term='Internet'/><category term='Pemrograman'/><title type='text'>Setetes Embun Dari Salo</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-5435214872091556383</id><published>2010-12-18T10:37:00.001+07:00</published><updated>2010-12-18T10:38:33.467+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Mengapa Wanita Harus Berhijab?</title><content type='html'>MENGAPA WANITA HARUS BERHIJAB?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini sangat penting namun jawabannya justru jauh lebih  penting. Satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang cukup panjang.  Jilbab atau hijab merupakan satu hal yang telah diperintahkan oleh Sang  Pembuat syariat. Sebagai syariat yang memiliki konsekwensi jauh ke  depan, menyangkut kebahagiaan dan kemashlahatan hidup di dunia dan  akhirat. Jadi, persoalan jilbab bukan hanya persoalan adat ataupun mode  fashion Jilbab adalah busana universal yang harus dikenakan oleh wanita  yang telah mengikrarkan keimanannya. Tak perduli apakah ia muslimah  Arab, Indonesia, Eropa ataupun Cina. Karena perintah mengenakan hijab  ini berlaku umum bagi segenap muslimah yang ada di setiap penjuru bumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kami ulas sebagian jawaban dari pertanyaan di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan RasulNya.  &lt;br /&gt;Ketaatan merupakan sumber kebahagian dan kesuksesan besar di dunia dan  akherat. Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman manakala ia enggan  merealisasikan,mengaplikasikan serta melaksanakan  segenap perintah  Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar". [Al Ahzab:71]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَاقَ طَعْمَ الإِيماَنِ مَنْ رَضِيَ بالله رَباًّ وَبالإسْلامِ دِيْناً وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلًا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh akan merasakan manisnya iman, seseorang yang telah rela Allah  sebagaiRabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul utusan  Allah". [HR Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Pamer aurat dan keindahan tubuh merupakan bentuk maksiat yang mendatangkan murka Allah dan RasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata".  [Al Ahzab:36].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ أُمَّتِي مُعَافىً إلاَّ المُجَاهِرُن. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap umatku (yang bersalah) akan dimaafkan, kecuali orang yang secara terang-terangan (berbuat maksiat)". [Muttafaqun alaih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara wanita yang pamer aurat dan keindahan tubuh  sama artinya dia  telah berani menampakkan kemaksiatan secara terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Sesungguhnya Allah memerintahkan hijab untuk meredam berbagai macam fitnah (kerusakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berbagai macam fitnah redup dan lenyap, maka masyarakat yang dihuni  oleh kaum wanita berhijab akan lebih aman dan selamat dari fitnah.  Sebaliknya, masyarakat yang  dihuni oleh wanita yang gemar bertabarruj  (berdandan seronok), pamer aurat dan keindahan tubuh, sangatlah rentan  terhadap ancaman berbagai fitnah dan pelecehan seksual serta gejolak  syahwat yang membawa malapetaka dan kehancuran yang sangat besar. Jasad  yang bugil jelas akan memancing perhatian dan pandangan berbisa. Itulah  tahapan pertama bagi penghancuran dan pengrusakan moral dan peradaban  sebuah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat : Tidak berhijab dan pamer perhiasan akan mengundang fitnah bagi laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita apabila memamerkan bentuk tubuh dan perhiasannya di  hadapan laki-laki non mahram, jelas akan mengundang perhatian kaum  laki-laki hidung belang dan serigala berbulu domba. Jika ada kesempatan  mereka pasti akan memangsa dengan ganas laksana singa sedang kelaparan.&lt;br /&gt;Seorang penyair berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نظرة فإبتسامة فسلام    *       فكلام فموعد فلقاء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berawal dari pandangan lalu senyuman kemudian salam disusul pembicaraan lalu berakhir dengan janji dan pertemuan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima : Seorang wanita muslimah yang menjaga hijab, secara tidak  langsung ia berkata kepada semua kaum laki-laki,“Tundukkanlah  pandanganmu, aku bukan milikmu dan kamu juga bukan milikku. Aku hanya  milik orang yang dihalalkan Allah bagiku. Aku orang merdeka yang tidak  terikat dengan siapapun dan aku tidak tertarik dengan siapapun karena  aku lebih tinggi dan jauh lebih terhormat dibanding mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun wanita yang bertabarruj atau pamer aurat dan menampakkan  keindahan tubuh di depan kaum laki-laki hidung belang, secara tidak  langsung ia berkata, “Silahkan anda menikmati keindahan tubuhku dan  kecantikan wajahku. Adakah orang yang mau mendekatiku? Adakah orang yang  mau memandangku? Adakah orang yang mau memberi senyuman kepadaku?  Ataukah ada orang yang berseloroh,“Aduhai betapa cantiknya dia?”. Mereka  berebut menikmati keindahan tubuhnya dan kecantikan wajahnya hingga  mereka pun  terfitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakah di antara dua wanita di atas yang lebih merdeka? Jelas, wanita  yang berhijab secara sempurna akan memaksa setiap lelaki untuk  menundukkan pandangan mereka dan bersikap hormat ketika melihatnya,  hingga mereka menyimpulkan bahwa dia adalah wanita merdeka, bebas dan  sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan hikmah di balik perintah mengenakan hijab dengan firmanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu  mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih". [Al  Ahzab : 59]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang menampakkan aurat dan keindahan tubuh serta kecantikan  parasnya, laksana pengemis yang merengek-rengek untuk dikasihani. Tanpa  sadar mereka rela menjadi mangsa kaum laki-laki bejat dan rusak. Dia  menjadi wanita terhina, terbuang, murahan dan kehilangan harga diri dan  kesucian. Dan dia telah menjerumuskan dirinya dalam kehancuran dan  malapetaka hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT-SYARAT HIJAB&lt;br /&gt;Hijab sebagai bagian dari syariat islam, memiliki batasan-batasan jelas.  Para ulama pembela agama Allah telah memaparkan dalam tulisan-tulisan  mereka seputar kriteria hijab. Setiap mukminah hendaknya memperhatikan  batasan syariat berkaitan dengan hijab ini. Menjadikan Kitabullah dan  Sunnah NabiNya sebagai dasar rujukan dalam beramal, serta tidak  berpegang kepada pendapat-pendapat menyimpang dari para pengekor hawa  nafsu. Dengan demikian tujuan disyariatkanya hijab dapat terwujud,  bi’aunillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara syarat-syarat hijab antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota  tubuh sedikitpun selain yang dikecualikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala  berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ  فُرُوجَهُنَّ وَلاَيُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّمَاظَهَرَ مِنْهَا  وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaklah mereka  menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka  kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung  ke dada mereka". [An Nuur:31].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ  الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى  أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا {59}*  لَّئِن لَّمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ  وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ  لاَيُجَاوِرُونَكَ فِيهَآ إِلاَّ قَلِيلاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan  isteri-isteri orang mukmin,“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya  keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah  untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha  Pengampun lagi Maha Penyanyang". [Al Ahzab : 59].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Hendaknya hijab tidak menarik perhatian pandangan laki-laki  bukan mahram. Agar hijab tidak memancing pandangan kaum laki-laki maka   harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-. Hendaknya hijab terbuat dari kain yang tebal tidak menampakkan warna kulit tubuh.&lt;br /&gt;-. Hendaknya hijab tersebut longgar dan tidak menampakkan bentuk anggota tubuh.&lt;br /&gt;-. Hendaknya hijab tersebut bukan dijadikan sebagai perhiasan bahkan  harus memiliki satu    warna bukan berbagai warna dan motif.&lt;br /&gt;-. Hijab bukan merupakan pakaian kebanggaan dan kesombongan. &lt;br /&gt;Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة ثم ألهب فيه النار.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengenakan pakaian kesombongan di dunia maka Allah  akan mengenakan pakaian kehinaan nanti pada hari kiamat kemudian ia  dibakar dalam Neraka”. [HR Abu Daud dan Ibnu Majah, dan hadits ini  hasan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-. Hendaknya hijab tersebut tidak diberi parfum atau wewangian.   Dasarnya adalah hadits dari Abu Musa Al Asy’ary Radhiyallahu 'anhu, dia  berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيُّماَ امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَليَ قَوْمٍ لِيَجِدوُا رِيْحَهَافهي زَانِيَةٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapapun wanita yang mengenakan wewangian lalu melewati segolongan  orang agar mereka mencium baunya, maka ia adalah wanita pezina". [HR Abu  Daud, Nasa’i dan Tirmidzi, dan hadits ini Hasan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Hendaknya pakaian atau hijab yang dikenakan tidak menyerupai  pakaian laki-laki atau pakaian wanita kafir. Rasulullah Shallallahu  'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَشَبَّهَ  بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang menyerupai kaum maka dia termasuk bagian dari mereka". [HR Ahmad dan Abu Daud]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutuk laki-laki yang  mengenakan pakaian wanita serta mengutuk wanita yang berpakaian seperti  laki-laki. [HR Abu daud Nasa’i dan Ibnu Majah, dan hadits ini sahih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : &lt;br /&gt;Syaikh Albani dalam kitabnya Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah Fil Kitab Was  Sunnah mengatakan, menutup wajah  adalah sunnah hukumnya (tidak wajib)  akan tetapi yang memakainya mendapat keutamaan.  Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya tujukan kepada saudari-saudariku seiman yang sudah  berhijab agar lebih memantapkan hijabnya hanya untuk mencari wajah  Allah. Juga bagi mereka yang belum berhijab agar bertaubat dan segera  memulainya sehingga mendapat ampunan dari Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu waliyyut taufiq&lt;br /&gt;(Ummu Ahmad Rifqi )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’: &lt;br /&gt;-Al Afrah, Ahmad bin Abdul Aziz Hamdani.&lt;br /&gt;-Tanbihaat Ahkaami Takhtasu Bil Mukminaat, Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Al  Fauzan.&lt;br /&gt;-Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah Fil Kitabi Was Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VII/1424H/2003  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi  Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://almanhaj.or.id/content/2916/slash/0&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-5435214872091556383?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/5435214872091556383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/12/mengapa-wanita-harus-berhijab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5435214872091556383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5435214872091556383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/12/mengapa-wanita-harus-berhijab.html' title='Mengapa Wanita Harus Berhijab?'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-472136825914617585</id><published>2010-06-22T23:17:00.000+07:00</published><updated>2010-06-22T23:17:44.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Menelusuri Ruqyah Syar'iyyah</title><content type='html'>Penulis: Al-Ustadz Abu Abu Muhammad Abdul Mu'thi Al-Medani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merunut sejarahnya, ruqyah merupakan salah satu metode pengobatan yang cukup tua di muka bumi ini. Dengan datangnya Islam, metode ini kemudian disesuaikan dengan nafas dan tata cara yang sesuai syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada akibat tentu dengan sebab. Yang demikian merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berlaku di jagad raya ini. Memang ini tidak mutlak terjadi pada seluruh perkara. Namun mayoritas urusan makhluk tak lepas dari hukum sebab dan akibat. Hukum ini merupakan hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang lengkap dengan kebaikan. Makhluk mana pun tak bisa menggapai keinginannya kecuali dengan hukum sebab dan akibat. Di alam nyata ini, tak ada sebab yang sempurna dan bisa melahirkan akibat dengan sendirinya kecuali kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan sebab bagi segala sebab. Kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah kekuatan yang selalu menuntut (memunculkan) akibat. Tak satu sebab pun bisa melahirkan akibat dengan sendirinya, melainkan harus disertai sebab yang lain yaitu kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan pada sebagian sebab, hal-hal yang dapat menggagalkan akibatnya. Adapun kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak membutuhkan sebab yang lain kecuali kehendak-Nya itu sendiri.&lt;br /&gt;Tak ada sebab apapun yang dapat melawan dan membatalkannya. Namun terkadang Allah Subhanahu wa Ta'ala membatalkan hukum kehendak-Nya dengan kehendak-Nya (yang lain). Dialah yang menghendaki sesuatu lalu menghendaki lawan yang bisa mencegah terjadinya. Inilah sebab mengapa seorang hamba wajib memasrahkan dirinya, takut, berharap, dan berkeinginan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengucapkan dalam doanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِرَضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمَعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dengan pemeliharaan-Mu dari siksa-Mu. Dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada tempat selamat dari Dzat-Mu kecuali kepada Dzat-Mu.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Di antara sekian akibat yang membutuhkan sebab adalah kesembuhan. Kesembuhan datang dengan sebab berobat. Namun, apakah setiap orang yang berobat pasti sembuh? Jawabannya tentu tidak. Karena kesembuhan itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan dari obat atau orang yang mengobati. Obat akan manjur dan mengantarkan kepada kesembuhan bila Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki. Karena itu, seorang yang berobat tidak boleh menyandarkan dirinya kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan kepada obat dan orang yang mengobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memaparkan perihal berobat dalam beberapa haditsnya. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَنْزَلَ اللهُ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari Usamah bin Syarik radhiallahu 'anhu, bahwa beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah berada di samping Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab: “Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menshahihkan hadits ini dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shahih mimma Laisa fish Shahihain, 4/486)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yang bisa mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Al-Bushiri menshahihkan hadits ini dalam Zawa`id-nya. Lihat takhrij Al-Arnauth atas Zadul Ma’ad, 4/12-13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berobat, banyak cara yang bisa ditempuh asalkan tidak melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum berobat dan meninggalkannya. Tentunya perselisihan mereka berangkat dari perbedaan dalam memahami dalil-dalil yang ada dalam permasalahan ini. Terdapat tiga pendapat di kalangan para ulama dalam menentukan hukum berobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menurut sebagian ulama bahwa berobat diperbolehkan, namun yang lebih utama tidak berobat. Ini merupakan madzhab yang masyhur dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menurut sebagian ulama bahwa berobat adalah perkara yang disunnahkan. Ini merupakan pendapat para ulama pengikut madzhab Asy-Syafi’i rahimahullahu. Bahkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim menisbahkan pendapat ini kepada madzhab mayoritas para ulama terdahulu dan belakangan. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Abul Muzhaffar. Beliau berkata: “Menurut madzhab Abu Hanifah, berobat adalah perkara yang sangat ditekankan. Hukumnya hampir mendekati wajib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menurut sebagian ulama bahwa berobat dan meninggalkannya sama saja, tidak ada yang lebih utama. Ini merupakan madzhab Al-Imam Malik rahimahullahu. Beliau berkata: “Berobat adalah perkara yang tidak mengapa. Demikian pula meninggalkannya.” (Lihat Fathul Majid, hal. 88-89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memiliki metode yang cukup baik dalam mempertemukan beberapa pendapat di atas. Beliau merinci hukum berobat menjadi beberapa keadaan, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bila diketahui atau diduga kuat bahwa berobat sangat bermanfaat dan meninggalkannya akan berakibat kebinasaan, maka hukumnya wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bila diduga kuat bahwa berobat sangat bermanfaat, namun meninggalkannya tidak berakibat kebinasaan yang pasti, maka melakukannya lebih utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bila dengan berobat diperkirakan kadar kemungkinan antara kesembuhan dan kebinasaannya sama, maka meninggalkannya lebih utama agar dia tidak melemparkan dirinya dalam kehancuran tanpa disadari. (Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 2/437)&lt;br /&gt;Secara garis besar, berobat merupakan perkara yang disyariatkan selama tidak menggunakan sesuatu yang haram. Hal ini sebagaimana ditegaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, demikian pula Allah menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud dari Abud Darda` radhiallahu 'anhu)&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari obat yang buruk (haram).” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Ibnu Majah, 2/255) [Lihat kitab Ahkam Ar-Ruqa wa At-Tama`im karya Dr. Fahd As-Suhaimi, hal. 21)&lt;br /&gt;Di antara cara pengobatan yang disyariatkan adalah melakukan ruqyah. Akhir-akhir ini, pengobatan dengan ruqyah memang marak diperbincangkan dan dipraktekkan di tengah kaum muslimin negeri ini. Padahal sebelumnya pengobatan dengan ruqyah tidak banyak diketahui oleh mereka.&lt;br /&gt;Sayangnya, sebagian kelompok menjadikan ruqyah sebagai arena untuk mengundang simpati publik demi kepentingan yang bernuansa politik. Mereka beramai-ramai membuka ruqyah center di berbagai tempat guna memenuhi kebutuhan massa yang ‘haus’ akan pengobatan ruqyah. Namun sudahkah praktek ruqyah itu mencocoki tuntunan syariat Islam? Pertanyaan ini harus dijawab dengan ilmu yang benar, bukan dengan semangat belaka.&lt;br /&gt;Oleh karena itu perlu pembekalan ilmu yang dapat mengenalkan kaum muslimin kepada ruqyah syar’i yang tepat sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Sehingga mereka terhindar dari praktek-praktek ruqyah yang salah kaprah bahkan bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh karena itu, marilah kita simak beberapa pembahasan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Definisi Ruqyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Makna ruqyah secara terminologi adalah al-‘udzah (sebuah perlindungan) yang digunakan untuk melindungi orang yang terkena penyakit, seperti panas karena disengat binatang, kesurupan, dan yang lainnya. (Lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits karya Ibnul Atsir rahimahullahu 3/254)&lt;br /&gt;Secara terminologi, ruqyah terkadang disebut pula dengan ‘azimah. Al-Fairuz Abadi berkata: “Yang dimaksud ‘azimah-‘azimah adalah ruqyah-ruqyah. Sedangkan ruqyah yaitu ayat-ayat Al-Qur`an yang dibacakan terhadap orang-orang yang terkena berbagai penyakit dengan mengharap kesembuhan.” (Lihat Al-Qamus Al-Muhith pada materi عزم)&lt;br /&gt;Adapun makna ruqyah secara etimologi syariat adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. Terkadang doa atau bacaan itu disertai dengan sebuah tiupan dari mulut ke kedua telapak tangan atau anggota tubuh orang yang meruqyah atau yang diruqyah. (Lihat transkrip ceramah Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh yang berjudul Ar-Ruqa wa Ahkamuha oleh Salim Al-Jaza`iri, hal. 4)&lt;br /&gt;Tentunya ruqyah yang paling utama adalah doa dan bacaan yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Ibid, hal. 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ruqyah di Masa Jahiliyyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia yang mengerti kemaslahatan tentunya selalu ingin menjaga kesehatan tubuh dan jiwanya. Barangsiapa bisa memenuhi keinginan ini berarti karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk dirinya cukup besar. Sehingga wajar jika pengobatan ruqyah telah dikenal secara luas di tengah masyarakat jahiliyyah.&lt;br /&gt;Ruqyah adalah salah satu cara pengobatan yang mereka yakini dapat menyembuhkan penyakit dan menjaga kesehatan. Kala itu, ruqyah digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, seperti tersengat binatang berbisa, terkena sihir, kekuatan ‘ain (mata jahat), dan lainnya.&lt;br /&gt;Namun yang disayangkan, ruqyah sering menjadi media untuk penyebarluasan berbagai kesyirikan di kalangan mereka. Pengobatan ruqyah yang dilakukan tak luput dari pelanggaran syariat. Di antaranya adalah pengakuan mengetahui perkara ghaib, menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala, menyandarkan diri kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, berlindung kepada jin, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Setelah Islam datang, seluruh ruqyah dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali yang tidak mengandung kesyirikan. Islam mengajarkan kaum muslimin untuk berhati-hati dalam menggunakan ruqyah. Sehingga mereka tidak terjatuh ke dalam pengobatan ruqyah yang mengandung bid’ah atau syirik.&lt;br /&gt;‘Auf bin Malik radhiallahu 'anhu berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنَّ نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’ Beliau menjawab: ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik’.” (HR. Muslim no. 2200)&lt;br /&gt;Kebanyakan manusia terpedaya dengan penampilan ‘shalih’ dari orang yang meruqyah. Sehingga mereka tak lagi memperhatikan tata cara dan isi ruqyah yang dibacakan.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh hafizhahullah (semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaganya) berkata: “Penyebaran kesyirikan banyak terjadi di negeri-negeri Islam melalui para tabib, orang yang mengobati dengan ramu-ramuan dan mengobati dengan Al-Qur`an. Ibnu Bisyr menyebutkan pada permulaan Tarikh Najd, di antara faktor penyebab tersebarnya kesyirikan di negeri Najd adalah keberadaan para tabib dan ahli pengobatan dari orang-orang Badwi di berbagai kampung sewaktu musim buah. Manusia membutuhkan mereka untuk keperluan meruqyah dan pengobatan. Maka mereka memerintahkan manusia dengan kesyirikan dan cara-cara yang tidak disyariatkan....” (Ibid, hal. 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hukum Ruqyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ruqyah telah dikenal oleh masyarakat jahiliyyah sebelum Islam. Tetapi kebanyakan ruqyah mereka mengandung kesyirikan. Padahal Islam datang untuk mengenyahkan segala bentuk kesyirikan. Alasan inilah yang membuat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang para shahabat radhiallahu 'anhum untuk melakukan ruqyah. Kemudian beliau membolehkannya selama tidak mengandung kesyirikan. Beberapa hadits telah menjelaskan kepada kita tentang fenomena di atas. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu, bahwa beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya segala ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Asy-Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya. Lihat Ash-Shahihah no. 331)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i radhiallahu 'anhu, bahwa beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنَّ نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?” Beliau menjawab: “Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 2200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu, bahwa beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ وَإِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ: فَعَرَضُوْهَا عَلَيْهِ. فَقَالَ: مَا أَرَى بَأْسًا، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah. Lalu keluarga ‘Amr bin Hazm datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu memiliki ruqyah yang kami pakai untuk meruqyah karena (sengatan) kalajengking. Tetapi engkau telah melarang dari semua ruqyah.” Mereka lalu menunjukkan ruqyah itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Tidak mengapa, barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi kemanfaatan bagi saudaranya, maka hendaknya dia lakukan.” (HR. Muslim no. 2199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ لِيْ خَالٌ يَرْقِي عَنِ الْعَقْرَبِ، فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ: فَأَتَاهُ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى وَأَنَا أَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ, فَقَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu pamanku meruqyah karena (sengatan) kalajengking. Sementara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah. Maka pamanku mendatangi beliau, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melarang dari segala ruqyah, dan dahulu aku meruqyah karena (sengatan) kalajengking.’ Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda: ‘Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaknya dia lakukan.” (HR. Muslim no. 2199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiallahu 'anhu beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنْتُ أَرْقِي مِنْ حُمَةِ الْعَيْنِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَلَمَّا أَسْلَمْتُ ذَكَرْتُهَا لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اعْرِضْهَا عَلَيَّ. فَعَرَضْتُهَا عَلَيْهِ، فَقَالَ: ارْقِ بِهَا فَلاَ بَأْسَ بِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di masa jahiliyyah dulu aku meruqyah karena (sengatan) kalajengking dan ‘ain (sorotan mata yang jahat). Tatkala aku masuk Islam, aku memberitahukannya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‘Perlihatkan ruqyah itu kepadaku!’ Lalu aku menunjukkannya kepada beliau. Beliau pun bersabda: ‘Pakailah untuk meruqyah, karena tidak mengapa (engkau) menggunakannya’.” (HR. At-Thabrani dan dihasankan oleh Al-Haitsaimi dalam Majma’ Az-Zawa`id. Lihat tahqiq Al-Huwaini terhadap kitab Al-Amradh karya Dhiya`uddin Al-Maqdisi, hal. 220)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu 'anha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam, maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220)&lt;br /&gt;Demikianlah mereka melakukan ruqyah di masa jahiliyyah. Ruqyah mereka mengandung perbuatan syirik sehingga dilarang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian beliau membolehkannya bagi mereka selama tidak mengandung kesyirikan. Beliau membolehkannya karena ruqyah itu bermanfaat bagi mereka dalam banyak hal.&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Hadits-hadits sebelumnya menunjukkan bahwa hukum asal seluruh ruqyah adalah dilarang, sebagaimana yang tampak dari ucapannya: ‘Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah.’ Larangan terhadap segala ruqyah itu berlaku secara mutlak. Karena di masa jahiliyyah mereka meruqyah dengan ruqyah-ruqyah yang syirik dan tidak dipahami. Mereka meyakini bahwa ruqyah-ruqyah itu berpengaruh dengan sendirinya. Ketika mereka masuk Islam dan hilang dari diri mereka yang demikian itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mereka dari ruqyah secara umum agar lebih mantap larangannya dan lebih menutup jalan (menuju syirik). Selanjutnya ketika mereka bertanya dan mengabarkan kepada beliau bahwa mereka mendapat manfaat dengan ruqyah-ruqyah itu, beliau memberi keringanan sebagiannya bagi mereka. Beliau bersabda: ‘Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah selama tidak mengandung syirik’.” (Ahkamur Ruqa wa At-Tama`im hal. 35)&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain (sorotan mata yang jahat) atau humah (sengatan kalajengking).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah dari shahabat ‘Imran bin Hushain radhiallahu 'anhu)&lt;br /&gt;Menurut sebagian pendapat bahwa ruqyah tidak diperbolehkan kecuali karena dua hal yang telah disebutkan dalam hadits di atas. (Lihat Fathul Bari, 10/237, cetakan Darul Hadits)&lt;br /&gt;Ini adalah pendapat yang lemah karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memaksudkan dengan sabdanya tersebut untuk melarang ruqyah pada yang selain keduanya. Yang beliau maksudkan bahwa ruqyah yang paling utama dan bermanfaat adalah ruqyah yang disebabkan karena ‘ain atau humah. Hal ini terlihat dari uraian hadits. Ketika Sahl bin Hunaif terkena ‘ain, dia bertanya: “Adakah yang lebih baik dalam ruqyah?”&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ نَفْسٍ أَوْ حُمَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada ruqyah kecuali karena satu jiwa dan humah (sengatan kalajengking).”&lt;br /&gt;Demikian pula hadits-hadits yang lain, baik yang bersifat umum atau khusus, seluruhnya mengarah kepada makna di atas. (Lihat Zadul Ma’ad, 4/161, cet. Muassasah Ar-Risalah)&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Para ulama berkata: ‘Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memaksudkan untuk membatasi ruqyah hanya pada keduanya dan melarang dari selain keduanya. Yang beliau maksudkan adalah tidak ada ruqyah yang lebih benar dan utama daripada ruqyah karena ‘ain dan hummah karena bahaya keduanya sangat dahsyat.” (Syarh Shahih Muslim 14/177, cet. Al-Maktab Ats-Tsaqafi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Syarat-syarat Ruqyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Para ulama telah bersepakat tentang bolehnya ruqyah ketika terpenuhi tiga syarat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menggunakan Kalamullah atau nama-nama dan sifat-Nya.&lt;br /&gt;2. Menggunakan lisan (bahasa) Arab atau yang selainnya, selama maknanya diketahui.&lt;br /&gt;3. Meyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, namun dengan sebab Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berselisih mengenai tiga hal di atas bila dijadikan sebagai syarat. Yang kuat adalah pendapat yang mengharuskan untuk memenuhi tiga syarat yang disebutkan.” (Fathul Bari, 10/237)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penjelasan di atas, berarti segala ruqyah yang tidak memenuhi tiga syarat itu tidak diperbolehkan. Jika kita rinci, ada tiga jenis ruqyah yang tidak diperbolehkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ruqyah yang mengandung permohonan bantuan dan perlindungan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;Ruqyah-ruqyah seperti ini sering dipakai oleh para dukun, tukang sihir, dan paranormal. Mereka memohon bantuan dan perlindungan dengan menyebut nama-nama jin, malaikat, nabi, dan orang shalih. Terkadang mereka melakukan kesyirikan ini dengan kedok agama. Banyak orang awam yang terkecoh dengan penampilan sebagian mereka yang memakai atribut agama. Padahal ruqyah yang mereka lakukan dan ajarkan berbau mistik serta sarat dengan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ruqyah dengan bahasa ‘ajam (non Arab) atau sesuatu yang tidak dipahami maknanya.&lt;br /&gt;Mayoritas ruqyah yang berbahasa ‘ajam mengandung penyebutan nama-nama jin, permintaan tolong kepada mereka, dan sumpah dengan nama orang yang mengagungkannya. Oleh karena itu, para setan segera menyambut dan menaati orang yang membacanya. Keumuman ruqyah yang tersebar di tengah manusia dan tidak menggunakan bahasa Arab banyak mengandung syirik. Demikian yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 19/13-16)&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Hafizh Al-Hakami berkata: “Adapun ruqyah yang tidak memakai lafadz-lafadz Arab, tidak diketahui maknanya, tidak masyhur, dan tidak didapatkan dalam syariat sama sekali, maka bukanlah perkara yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidaklah berada dalam naungan Al-Quran dan As-Sunnah. Bahkan hal itu merupakan bisikan setan kepada para walinya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya para setan mewahyukan kepada wali-wali mereka untuk mendebat kalian.” (Al-An’am: 121)&lt;br /&gt;Ruqyah semacam inilah yang dimaksud Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya segala ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.”&lt;br /&gt;Hal itu karena orang yang mengucapkannya tidak mengetahui apakah ruqyahnya menggunakan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala, para malaikat, atau para setan. Dia pun tidak mengetahui apakah di dalamnya terdapat kekafiran atau keimanan, kebenaran atau kebatilan, kemanfaatan atau marabahaya, dan apakah itu ruqyah atau sihir. Demi Allah, mayoritas manusia benar-benar tenggelam dalam berbagai malapetaka ini. Mereka menggunakannya dengan bentuk yang cukup banyak dan jenis yang beraneka ragam….” (Ma’arijul Qabul, 1/406, cet. Darul Hadits)&lt;br /&gt;Sebagian kalangan membolehkan setiap ruqyah, walaupun maknanya tidak diketahui, asalkan terbukti memberi kemanfaatan. Mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada keluarga ‘Amr bin Hazm sewaktu mereka bertanya tentang ruqyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَرَى بَأْسًا، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lihat tidak mengapa. Barangsiapa yang mampu memberi manfaat bagi saudaranya hendaklah dia lakukan.”&lt;br /&gt;Tetapi pendapat mereka ini terbantah dengan hadits ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i. Dia meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa kalian menggunakan ruqyah-ruqyah itu selama tidak mengandung syirik”.&lt;br /&gt;Hadits ‘Auf ini menunjukkan dilarangnya seluruh ruqyah yang mengarah kepada kesyirikan. Setiap ruqyah yang tidak dimengerti maknanya, tidak dirasa aman, akan membawa kepada syirik. Sehingga setiap ruqyah yang tidak dimengerti maknanya dilarang dalam rangka berhati-hati. (Lihat Fathul Baari, 10/237)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ruqyah yang diyakini bahwa pelakunya bisa menyembuhkan dengan sendirinya tanpa kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;Tentu yang demikian ini bertentangan dengan ajaran tauhid. Karena ruqyah merupakan sebab, berarti pelaku ruqyah adalah pelaku sebab. Peruqyah ibarat dokter, sedangkan ruqyah ibarat obat. Obat adalah sebab dan dokter adalah pelaku sebab. Adapun pencipta sebab adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Suatu sebab akan bermanfaat jika dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dahulu bangsa jahiliyah meyakini bahwa ruqyah dipastikan berpengaruh dengan sendirinya. Oleh karena itu mereka sangat mengagungkan ruqyah dan pelakunya. Ini merupakan syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang hamba diperintahkan untuk menjalani sebab untuk mendapatkan akibat. Namun hatinya tidak boleh bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Pencipta segala sebab dan akibat. Di tangan-Nya seluruh kekuasaan langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا يَفْتَحِ اللهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلاَ مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلاَ مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu.” (Fathir: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” (Al-An’am: 17)&lt;br /&gt;Seorang hamba hendaknya mengharapkan kesembuhan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hanya bergantung kepada-Nya tatkala melakukan ruqyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sifat-sifat Peruqyah dan Pasiennya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ruqyah merupakan perkara yang disyariatkan. Tentunya seorang peruqyah perlu memperhatikan rambu-rambu syariat dalam meruqyah. Sehingga dia tidak ngawur dan melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hendaknya dia memiliki kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam setiap ucapan dan perbuatannya.&lt;br /&gt;Semestinya dia bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam seluruh ibadahnya tanpa sedikit pun berbuat syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika meruqyah, hendaknya mengikhlaskan permintaan tolong dan perlindungannya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menggapai kemanfaatan dari ruqyah yang dia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memiliki ilmu syar’i tentang ruqyahnya.&lt;br /&gt;Seharusnya dia mengetahui bahwa ruqyah yang digunakannya termasuk yang disyariatkan. Hendaknya dia mengambil ruqyahnya dari Al-Qur`an, As-Sunnah, dan doa-doa yang ma’ruf. Jika dia tidak mengetahui ruqyahnya disyariatkan atau tidak, semestinya bertanya kepada orang yang berilmu. Bila dia seorang yang bodoh, bukan ahlul ilmi, dan tidak mampu untuk menelaah ruqyah yang digunakan atau ditinggalkannya, berarti ini merupakan tanda bahwa dia tidak bisa. Dia tidak diperbolehkan bahkan tidak pantas diberi kesempatan untuk meruqyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bertujuan untuk memberi kemanfaatan kepada orang lain.&lt;br /&gt;Sudah seharusnya dia bertujuan dengan ruqyahnya itu untuk memberi kemanfaatan kepada saudaranya yang membutuhkan. Ini adalah sifat yang mulia dan dianjurkan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi kemanfaatan bagi saudaranya maka hendaknya dia lakukan.”&lt;br /&gt;Memberi kemanfaatan kepada saudara kita yang membutuhkan atau sakit adalah perbuatan baik, yang sangat dituntut sesama hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hamba yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah seorang yang paling bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Membuat orang yang diruqyah hanya bergantung kepada Allah Subhanahu w Ta'ala.&lt;br /&gt;Bila meruqyah, seharusnya dia tidak membuat orang yang diruqyah bergantung kepada dirinya. Jika dia telah sering meruqyah orang lain sampai sembuh, maka tidak perlu dia menceritakannya kepada yang akan diruqyah, sehingga tidak menimbulkan keyakinan yang salah terhadap dirinya. Sepantasnya dia menanamkan kepada orang yang akan diruqyah bahwa yang mampu menyembuhkan adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Adapun ruqyah adalah sebab, demikian pula dirinya bukan pencipta akibat. Namun sangat disayangkan, kebanyakan peruqyah membuat orang yang diruqyah merasa yakin terhadap dirinya seolah-olah dialah yang menyembuhkan. Dalam hal ini korban yang paling banyak adalah para wanita dan orang-orang yang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Khusyu’, tunduk, dan merendahkan diri hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;Ini adalah kelanjutan dari pembahasan yang sebelumnya. Seharusnya dia tidak membesar-besarkan dirinya di hadapan orang yang akan diruqyah. Sebagaimana dia juga tidak merasa besar terhadap dirinya sendiri. Niatnya adalah memberi kemanfaatan kepada orang lain dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan untuk merasa besar dan membesar-besarkan diri. Sehingga dia tidak membuat manusia bergantung kepada dirinya, tetapi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menggunakan dzikir dan wirid-wirid yang disyariatkan di dalam As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Menghindarkan diri dari celah-celah dosa dan fitnah.&lt;br /&gt;Seharusnya dia tidak mengikuti langkah-langkah setan yang bisa menggelincirkannya ke dalam kubangan dosa dengan alasan ruqyah. Terlebih lagi bila yang diruqyah adalah wanita. Seringkali setan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan peruqyah ke dalam dosa. Misalnya, setan menggodanya untuk berkhalwat (berduaan) dengan wanita yang diruqyah padahal bukan mahramnya. Atau menggodanya untuk menyentuh bagian tubuh wanita itu dengan tangannya, dengan alasan agar ruqyahnya lebih manjur, dsb. Oleh karena itu, banyak dari kalangan peruqyah yang rusak agamanya setelah terlibat dalam dunia ruqyah. (Lihat transkrip ceramah Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus-Syaikh hal. 7-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah nanti akan kita jelaskan praktek-praktek ruqyah yang menyimpang supaya kaum muslimin tidak mudah diperdaya oleh para peruqyah gadungan yang melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Adapun orang yang diruqyah hendaknya memiliki kriteria sebagai berikut&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memperbesar harapannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam meminta pertolongan dan perlindungan.&lt;br /&gt;Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يَرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيْبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (Yunus: 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’aam: 17-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (Asy-Syu’ara`: 80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Meninggalkan rasa was-was.&lt;br /&gt;Seharusnya dia tidak mengikuti rasa was-was yang muncul pada dirinya, karena hal itu berasal dari setan. Bila dia larut dalam rasa was-was itu, justru secara tidak langsung dia telah membantu setan untuk lebih menguasai dirinya. Karena itulah kita melihat kebanyakan orang yang tertimpa oleh penyakit was-was gampang dimasuki oleh jin atau terkena penyakit lainnya.&lt;br /&gt;Di samping itu, orang yang dihantui perasaan was-was akan membayangkan hal-hal yang bersifat halusinasi, sehingga dia akan semakin lemah dan bertambah penyakitnya baik secara kualitas maupun kuantitas. Maka wajib atas orang yang memiliki was-was untuk memperkuat tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjalani berbagai sebab yang disyariatkan guna menyembuhkan penyakitnya. Demikian pula, hendaknya dia melawan segala rasa was-was itu dan tidak mengikutinya dengan cara berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mempelajari wirid, bacaan, dan doa-doa yang disyariatkan.&lt;br /&gt;Seharusnya dia tidak selalu menggunakan orang lain dalam meruqyah dirinya. Hendaknya dia mulai menanamkan keyakinan bahwa dirinya mampu untuk meruqyah sendiri tanpa membutuhkan orang lain. Kemudian dia bersungguh-sungguh mempelajari wirid, bacaan, dan doa-doa yang disyariatkan untuk dipakai meruqyah dirinya sendiri. Ruqyah-ruqyah yang dipelajarinya itu sangat bermanfaat guna mengobati atau membentengi dirinya dari berbagai gangguan setan dan penyakit. Untuk meruqyah dirinya, dia bisa membaca seperti surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Naas, Ayat Kursi, dan yang lainnya. Dia bisa membaca ruqyah-ruqyah itu sebelum tidur, di pagi dan sore hari, setelah shalat wajib, atau waktu-waktu lain sesuai dengan yang dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Wirid-wirid yang dibacanya itu ibarat baju atau besi yang dipakai untuk membentengi dari beragama bahaya. Wirid-wirid itu adalah sebab yang bermanfaat untuk melindungi dirinya. Sedangkan pemberi manfaat dan penolak bahaya yang sebenarnya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Ibid, hal. 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bacaan dan Tata Cara Ruqyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya bacaan dan wirid terbaik untuk meruqyah adalah kalam Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta ini. Menggunakan kalam-Nya dalam meruqyah mengandung keberkahan Ilahi yang tak terkira. Ketika seorang peruqyah mengharapkan kesembuhan hanya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka sangat tepat dan utama bila dia menggunakan Kalamullah. Ucapan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berupa Al-Qur`an sendiri memang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai penyembuh dari segala jenis penyakit. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّ خَسَارًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘(Al-Qur`an) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)&lt;br /&gt;Alam semesta ini adalah ciptaan, milik, dan aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada satu kekuatan pun yang mampu berhadapan dengan kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Para malaikat pingsan dan tersungkur sujud tatkala mendengar firman-firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas langit sana. Sedangkan langit-langit bergemuruh dengan dahsyat karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana hal ini telah dikabarkan oleh Rasul yang jujur lagi dibenarkan ucapannya, yaitu Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Termasuk perkara yang dimaklumi bahwa sebagian ucapan memiliki keistimewaan dan kemanfaatan yang telah teruji. Maka bagaimana kita menganggap ucapan Rabb semesta alam ini? Tentunya keutamaan ucapan-Nya atas segala ucapan yang lain seperti keutamaan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas seluruh makhluk-Nya. Ucapan-Nya merupakan penyembuh yang sempurna, pelindung yang bermanfaat, cahaya yang memberi petunjuk, dan rahmat yang menyeluruh. Ucapan-Nya yang sekiranya diturunkan kepada sebuah gunung niscaya akan pecah karena keagungan dan kemuliaan-Nya.” (Lihat Zadul Ma’ad cet. Muassasah Ar-Risalah hal. 162-163)&lt;br /&gt;Berobat dengan Al-Qur`an adalah penyembuhan yang mujarab. Terlebih lagi jika dibacakan oleh seorang yang memiliki kekuatan iman. Dengan demikian, pengaruh bacaan itu akan bertambah ampuh untuk pengobatan segala penyakit dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Penyembuhan dengan Al-Qur`an tak hanya bagi penyakit jiwa, bahkan juga sangat mumpuni bagi penyakit jasmani. Cukuplah sebagai bukti konkretnya peristiwa yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu (lihat rubrik Hadits). Hadits tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh Al-Qur`an bagi penyembuhan penyakit jasmani. Bila seorang muslim melakukannya dengan keyakinan penuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, niscaya akan terealisasi dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: “Menurut sebagian kalangan, letak ruqyah dalam surat Al-Fatihah adalah pada firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan memohon pertolongan.”&lt;br /&gt;Dan tidak diragukan lagi bahwa dua kalimat ini termasuk bagian yang terkuat dari obat ini. Karena keduanya mengandung penyerahan, penyandaran, pemasrahan, permohonan tolong, permintaan, dan kebutuhan yang total kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Demikian pula, keduanya menggabungkan puncak segala tujuan, yaitu peribadahan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sarana yang paling utama yaitu permintaan tolong untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak terdapat pada selainnya.&lt;br /&gt;Suatu ketika, aku pernah jatuh sakit di kota Makkah. Aku sama sekali tidak mendapatkan seorang dokter dan obat. Maka aku pun berobat dengan surat Al-Fatihah. Aku ambil minum dari air Zamzam dan kubacakan atasnya surat Al-Fatihah, lalu aku meminumnya. Aku pun sembuh secara total. Semenjak itu, aku selalu berpegang dengan cara pengobatan ini pada kebanyakan penyakit yang aku derita. Akhirnya aku benar-benar meraih manfaat dengan surat Al-Fatihah.” (Zadul Ma’ad, 4/164, cet. Muassasah Ar-Risalah)&lt;br /&gt;Penyembuhan Al-Qur`an terhadap penyakit jiwa sangat manjur pula. Seperti untuk penyembuhan sempit dada, pengaruh sorotan mata yang jahat dan mampu merusak akal dan jiwa, kemasukan jin, kena sihir, dan lain-lain. Kesimpulannya, Al-Qur`an adalah obat bagi segala penyakit.&lt;br /&gt;Selain Al-Fatihah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga meruqyah dengan Al-Mu’awwidzat sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiallahu 'anha. Beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى نَفْسِهِ – فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ – بِالْمُعَاوِذَاتِ. فَلَمَّا ثَفُلَ، كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca Al-Mu’awwidzaat dan meniupkannya dengan sedikit meludah atas diri beliau di masa sakit beliau yang membawa kepada kematiannya. Tatkala beliau merasa semakin parah, aku yang membacakan Al-Mu’awwidzaat dan meniupkannya atas beliau. Aku usapkan bacaan itu dan tiupan (ludah)nya dengan tangan beliau sendiri. Hal ini karena keberkahan tangan beliau.” (HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt;Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu menyebutkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya dengan judul Bab Meruqyah dengan Al-Qur`an dan Al-Mu’awwidzat. Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan hal ini sebagai berikut: “Judul bab ini merupakan metode untuk mengikutkan hukum sesuatu yang khusus (Al-Mu’awwidzat) dengan sesuatu yang umum (Al-Qur`an). Karena yang dimaksud dengan Al-Mu’awwidzat adalah surat Al-Falaq, An-Naas, dan Al-Ikhlash sebagaimana telah lewat penjelasannya di bagian akhir Kitab At-Tafsir (dalam Shahih Al-Bukhari). Bisa jadi istilah Al-Mu’awwidzat di sini termasuk Bab At-Taghlib (penggunaan istilah untuk sesuatu yang biasa dipakai). Atau yang dimaksud (dengan Al-Mu’awwidzat) adalah surat Al-Falaq, An-Naas, dan seluruh ayat-ayat Al-Qur`an yang mengandung ta’awwudz (permintaan perlindungan) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.”&lt;br /&gt;Kemudian Ibnu Hajar rahimahullahu menyebutkan sebuah ayat sebagai contoh ucapannya. Namun beliau mengatakan bahwa pendapat yang pertama lebih baik. Beliau menyebutkan pula sebuah hadits dengan sanadnya yang disebutkan di dalamnya: “Tak ada ruqyah kecuali dengan Al-Mu’awwidzat.” Lalu beliau berbicara tentang kelemahan hadits ini dari sisi periwayatannya. Menurut beliau, jika hadits ini shahih maka hukumnya telah dihapuskan karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan untuk meruqyah dengan Al-Fatihah.&lt;br /&gt;Setelah beberapa penjelasan, beliau pun berkata: “…Hal ini tidak menunjukkan larangan ber-ta’awwudz (berlindung) dengan selain dua surat ini (Al-Falaq dan An-Naas). Hal itu hanyalah menunjukkan keutamaannya. Terlebih lagi, telah ada dalil yang membolehkan ber-ta’awwudz dengan selain keduanya. Hanya saja beliau mencukupkan diri dengan keduanya, karena keduanya mengandung al-isti’adzah (perlindungan) yang ringkas dan padat dari segala perkara yang tidak disukai, baik secara global maupun rinci….” (Fathul Bari, 10/236-237 cet. Darul Hadits)&lt;br /&gt;Bolehnya meruqyah dengan Al-Qur`an tak terbatas pada surat Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Naas, dan Al-Ikhlas. Karena Al-Qur`an secara keseluruhan merupakan obat bagi segala penyakit. Oleh karena itu, boleh meruqyah dengan ayat atau surat mana saja dari Al-Qur`an. Ibnu Baththal rahimahullahu berkata: “Bila diperbolehkan meruqyah dengan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) yang keduanya merupakan dua surat dari Al-Qur`an, berarti meruqyah dengan yang selebihnya dari Al-Qur`an juga diperbolehkan. Karena seluruhnya adalah Al-Qur`an.” (Dinukil dari kitab Ahkam Ar-Ruqa wa At-Tama`im hal. 38)&lt;br /&gt;Demikian pula boleh meruqyah dengan nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Al-Qur`an juga mengandung keduanya. Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Jibril 'alaihissalam pernah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jibril bertanya: “Wahai Muhammad, apakah engkau mengeluhkan rasa sakit?” Nabi menjawab: “Iya.” Maka Jibril membacakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ شَرٍّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dan keburukan setiap jiwa atau sorotan mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Adapun doa-doa yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meruqyah juga merupakan pengobatan yang mujarab. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki kata-kata yang ringkas dan padat (jawami’ul kalim) sehingga doa-doa yang beliau baca benar-benar barakah. Inilah keistimewaan yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bila kita memakai doa-doa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meruqyah dengan keyakinan yang mantap, niscaya manfaatnya akan tampak nyata dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini kami akan menyebutkan sebagian doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Namun bukan berarti tidak ada yang lain lagi. Selama suatu doa dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih untuk meruqyah dirinya atau orang lain maka kita diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk menggunakannya. Sebaik-baik teladan adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengenai doa-doa yang kami maksud adalah sebagai berikut:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu bahwa beliau berkata kepada Tsabit Al-Bunani: “Maukah engkau aku ruqyah dengan ruqyah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam?” Tsabit menjawab: “Ya”. Maka Anas membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَافِي لاَ شَافِيَ إِلاَّ أَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, Rabb sekalian manusia, yang menghilangkan segala petaka, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Engkau, sebuah kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha, beliau berkata: “Dahulu bila salah seorang dari kami mengeluhkan rasa sakit maka beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengusapnya dengan tangan kanan beliau dan membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبِأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَفَمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, Rabb sekalian manusia, hilangkanlah petakanya dan sembuhkanlah dia, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tak ada penyembuh kecuali penyembuhan-Mu, sebuah penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha, bahwa beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meruqyah dengan membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;امْسِحِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءِ لاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ أَنْتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hapuslah petakanya, wahai Rabb sekalian manusia. Di tangan-Mu seluruh penyembuhan, tak ada yang menyingkap untuknya kecuali Engkau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari ‘Aisyah radhiallahu 'anha, bahwa beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bila meruqyah beliau membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيْقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيْمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan nama Allah. Tanah bumi kami dan air ludah sebagian kami, semoga disembuhkan dengannya orang yang sakit di antara kami, dengan seizin Rabb kami.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dari Abu Al-‘Ash Ats-Tsaqafi radhiallahu 'anhu, bahwa beliau mengeluhkan sakit yang dirasakannya di tubuhnya semenjak masuk Islam kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ فِيْ جَسَدِكَ وَقُلْ: بِسْمِ اللهِ ثَلاَثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Letakkanlah tanganmu pada tempat yang sakit dari tubuhmu dan ucapkanlah, ‘Bismillah (Dengan nama Allah)’ sebanyak tiga kali. Lalu ucapkanlah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan sesuatu yang kurasakan dan kuhindarkan,’ sebanyak tujuh kali.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu 'anhuma, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَادَ مَرِيْضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَسْأَلُكَ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيْكَ، إِلاَّ عَافَاهُ اللهُ فِيْ ذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mengunjungi orang sakit selama belum datang ajalnya, lalu dia bacakan di sisinya sebanyak tujuh kali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَسْأَلُكَ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Pemilik ‘Arsy yang besar, semoga menyembuhkanmu,’ niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu.” (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan dihasankan oleh Al-Hafizh dalam Takhrij Al-Adzkar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiallahu 'anhu, beliau berkata: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengunjungiku (ketika aku sakit) dan beliau membaca:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sembuhkanlah Sa’d Ya Allah, sembuhkanlah Sa’d. Ya Allah, sembuhkanlah Sa’d.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara-Cara Meruqyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara lain yang demikian serius untuk diperhatikan oleh seorang peruqyah adalah tidak melakukan tatacara ruqyah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena ruqyah adalah amal yang disyariatkan, maka hendaknya sesuai dengan ajaran yang mengemban syariat. Berikut ini beberapa tatacara ruqyah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Meniup dengan air ludah yang sangat sedikit, bukan meludah.&lt;br /&gt;Inilah yang disebut dengan an-nafats. Sedangkan di atasnya adalah at-tafal, dan di atasnya adalah al-buzaq, yang disebut dalam bahasa kita dengan meludah. Yang disyariatkan ketika meruqyah adalah melakukan an-nafats dan at-tafal. Tatacara ini telah dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini menunjukkan bolehnya melakukan an-nafats dan at-tafal dalam meruqyah. Ini adalah pendapat sekumpulan shahabat dan jumhur para ulama.&lt;br /&gt;Adapun waktu pelaksanaannya, boleh dilakukan sebelum membaca ruqyah, sesudahnya, atau bersamaan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah radhiallahu 'anha yang sebagiannya diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, sedangkan yang lain hanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari saja dan hadits Abu Sa’id radhiallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Meruqyah tanpa an-nafats dan at-tafal.&lt;br /&gt;Hal ini ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari sebagaimana telah disebutkan di atas. Demikian pula ruqyah yang dilakukan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu dan diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Meniup dengan air ludah yang sangat sedikit (an-nafats) pada jari telunjuk, lalu meletakkannya di tanah kemudian mengusapkannya pada tempat yang sakit ketika melakukan ruqyah.&lt;br /&gt;Hal ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah radhiallahu 'anha yang diriwayatkan Al-Imam Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengusap dengan tangan kanan pada tubuh setelah membaca ruqyah atau pada tempat yang sakit sebelum membaca ruqyah.&lt;br /&gt;Hal ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dan hadits ‘Utsman bin Abil ‘Ash yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menyediakan air dalam sebuah bejana lalu membacakan ruqyah yang disyariatkan padanya, dan meniupkan padanya sedikit air ludah. Kemudian dimandikan atau diminumkan kepada orang yang sakit, atau diusapkan ke tempat yang sakit.&lt;br /&gt;Ini berdasarkan hadits ‘Ali radhiallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 548) dan hadits Tsabit bin Qais bin Syammas radhiallahu 'anhu yang dikeluarkan oleh Abu Dawud, An-Nasa`i serta yang lainnya, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 1526). Hal ini juga dikuatkan oleh beberapa atsar sebagaimana dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan Mushannaf Abdur Razaq.&lt;br /&gt;Demikian pula sebelum ini kami telah membawakan pengakuan Ibnul Qayyim bahwa ketika beliau sakit di Makkah pernah berobat dengan meminum air Zamzam yang dibacakan atasnya Al-Fatihah berulang kali. Selanjutnya beliau berkata: “Darinya aku memperoleh manfaat dan kekuatan yang belum pernah aku ketahui semisalnya pada berbagai obat. Bahkan bisa jadi perkaranya lebih besar daripada itu, akan tetapi sesuai dengan kekuatan iman dan kebenaran keyakinan. Wallahul Musta’an.” (Madarijus Saalikin, 1/69)&lt;br /&gt;Cara yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim ini juga merupakan pendapat Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz rahimahumallah. (Lihat Ahkaam Ar-Ruqa wa At-Tama`im hal. 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menuliskan ayat-ayat Al-Qur`an pada selembar daun, atau yang sejenisnya, atau pada sebuah bejana lalu dihapus dengan air, kemudian air itu diminum atau dimandikan kepada orang yang sakit.&lt;br /&gt;Cara ini diperselisihkan hukumnya di kalangan para ulama. Di antara yang membolehkannya adalah Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abu Qilabah, Ahmad bin Hanbal, Al-Qadhi ‘Iyadh, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnul Qayyim. Sedangkan yang memakruhkannya adalah Ibrahim An-Nakha’i, Ibnu Sirin, dan Ibnul ‘Arabi rahimahumullah. Al-Lajnah Ad-Da`imah sebagai tim fatwa negara Saudi Arabia pernah ditanya tentang hal ini. Mereka menjawab bahwa hal ini tidak datang dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Al-Khulafa` Ar-Rasyidun, dan para shahabat yang lainnya. Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas tidaklah shahih. Selanjutnya mereka menyebutkan nama-nama ulama yang membolehkan sebagaimana yang tadi telah kami singgung. Kemudian mereka berkata: “Bagaimana pun juga bahwa amalan yang seperti ini tidaklah dianggap syirik.” (Lihat Majmu’ Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah soal no. 184)&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa penjelasan tentang ruqyah syar’i yang bisa kami cantumkan dalam tulisan ini. Sebenarnya masih banyak pembahasan tentang ruqyah syar’i yang tidak bisa kami sertakan di sini karena keterbatasan tempat. Semoga yang kami tuliskan diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bermanfaat bagi seluruh pembaca yang budiman. Akhirnya, kesempurnaan itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.asysyariah.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-472136825914617585?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/472136825914617585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/06/menelusuri-ruqyah-syariyyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/472136825914617585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/472136825914617585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/06/menelusuri-ruqyah-syariyyah.html' title='Menelusuri Ruqyah Syar&apos;iyyah'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-3615383258154966022</id><published>2010-06-22T11:52:00.002+07:00</published><updated>2010-06-22T11:59:35.927+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Wahai Saudariku, Imanilah bahwa Jin itu Ada</title><content type='html'>Sungguh aneh, seseorang yang belum pernah belajar bahasa Arab atau bahkan tidak mengenal bahasa Arab, tiba-tiba saja pandai berbicara dengan bahasa Arab. Dan tidak jauh berbeda, seorang yang berdomisili di Jawa Barat dan kurang begitu paham dengan bahasa Jawa, tiba-tiba dengan lembut berbicara bahasa Jawa Krama Inggil dengan begitu fasihnya. Demikianlah salah satu fenomena yang pernah kita jumpai di masyarakat kita. Mengapa hal itu bisa terjadi? Dan ada apa dibalik semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Akankah kita menganggap bahwa hal itu hanyalah halusinasi semata karena pikiran orang tersebut sedang kosong, sehingga hal tersebut tidak perlu dihiraukan? Dengan kata lain, sebagian orang menganggap bahwa ini adalah salah satu gejala psikologis. Ataukah kita menganggap bahwa dia kerasukan setan sehingga harus dibawa ke dukun, orang pintar atau semacamnya agar dibebaskan dari belenggu setan? Na’udzubillahi min dzalik. Kita berlindung dari menjawab dengan kedua anggapan di atas, karena jika kita menganggap bahwa fenomena di atas hanyalah gejala psikologis semata yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan gangguan-gangguan spiritualitas seseorang, maka sungguh bisa jadi kita mendustakan keberadaan makhluk yang telah Allah ciptakan, yaitu jin. Padahal sudah sangat jelas adanya dalil tentang keberadaan makhluk ciptaan Allah yaitu jin, serta adanya dalil yang menunjukkan bahwasanya seseorang itu bisa kerasukan jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Adz-Dzariyat ayat ke-56 yang artinya, “Tidaklah kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”. Perhatikanlah bahwasanya di dalam ayat tersebut Allah menciptakan dua makhluk yang sama-sama ditugaskan untuk menyembahNya. Jin diciptakan berdampingan dengan kita, hanya saja Allah telah memisahkan alamnya dengan alam kita. Dan hanya Allah Dzat yang tahu akan perkara yang ghaib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang yang menganggap bahwasanya kesurupan jin adalah sesuatu yang mustahil ! Ketahuilah bahwa kebenaran adanya fenomena kesurupan jin bukanlah sekedar imajinasi, halusinasi, khurafat, tahayul atau apalah namanya. Namun hal itu adalah peristiwa nyata yang didukung oleh banyak dalil dari Al Qur’an, hadits, serta merupakan ijma’ ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;“Orang-orang yang makan(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (Qs. Al-Baqarah: 275)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits diriwayatkan dDari Utsman bin Abi Ash radhiyallahu ‘anhu berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menugaskanku untuk mengurursi kota Thaif, ada sesuatu yang mengganggu diriku dalam shalatku sehingga saya tidak sadar tatkala menjalankan shalat. Tatkala aku merasakan hal itu, maka aku pergi menemui Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bertanya,“Ibnu Abi Ash?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabku, “Ya, wahai Rasulullah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bertanya lagi, “Apa yang mendorongmu kemari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata, “Wahai Rasulullah, ada sesuatu yang mengganggu diriku dalam shalatku sehingga saya tidak sadar tatkala menjalankan shalat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah setan, kemari mendekatlah kepadaku”. Akupun mendekati beliau sedangkan beliau duduk di hadapanku. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memukul dadaku dengan tangannya dan meludah ke mulutku seraya berkata,”Keluarlah wahai musuh Allah!” Beliau melakukan hal itu sebanya tiga kali kemudian bersabda, “Lanjutkan lagi tugasmu.” Utsman berkata, “Sungguh, setelah itu saya tidak merasakan sesuatu itu mengangguku lagi.”&lt;br /&gt;(Sanad hadits ini shahih sebagaimana ditegaskan oleh Al-Busyairi dalam Misbah Zujajah (4/36-Sunan) dan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah 6/1002/2. Bahkan ada jalur-jalur lainnya yang menambah kuat keabsahan hadits ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Syaikh Al-Albani rahimahullah berkomentar,” Dalam hadits ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa setan bisa merasuk ke badan manusia sekalipun dia orang yang beriman dan shalih. Banyak hadits yang mendukung adanya hal itu.” (Ash-Shahihah 6/1002/2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dalil dari ijma’ ulama penulis bawakan perkataan dari Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata, “Al-Qur’an, sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kesepakatan umat telah menunjukkan bahwa jin bisa masuk pada jasad manusia. Lantas pantaskah bagi orang yang mengaku berilmu untuk mengingkarinya tanpa pijakan ilmu dan petunjuk. Laa haula wa laa quwwata illa billahi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat juga pendapat ahli kedokteran yang mengakui adanya fenomena kesurupan. Seorang pakar ilmu kedokteran sekaligus ilmu islam lainnya, Syaikhul Islam kedua, Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan, “Kesurupan itu ada dua macam: Kesurupan karena ruh-ruh jahat (baca: setan) dan kesurupan karena tercampurnya benda-benda yang kotor (penyakit kejang-kejang, ayan dan sejenisnya). Kesurupan jenis kedua inilah yang biasa dijadikan topik pembicaraan di kalangan ahli medis tentang faktor penyebab dan cara pengobatannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kesurupan karena ruh-ruh (baca: jin), maka para pakar ilmuwan kedokteran tidak menolaknya, dan mereka mengakui bahwa cara pengobatannya yaitu dengan melawan ruh-ruh jelek dan keji tersebut dengan ruh-ruh yang baik dan suci sehingga melawan segala bentuk pengaruhnya dan mengusirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah jelaslah wahai saudariku, bahwasanya fenomena seseorang kerasukan jin adalah benar adanya. Mengingkarinya adalah pendapat yang sungguh bathil. Karena sudah jelasnya dalil-dalil yang menunjukkan akan hal itu, yang pasti bisa diterima oleh akal sehat. Jadi yang perlu sangat diperhatikan, bahwasanya perihal mengimani/mempercayai adanya jin serta perbuatannya adalah termasuk permasalahan aqidah. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati di dalam berucap dan bertingkah menyikapi adanya fenomena orang yang kesurupan jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda –tanda seorang kerasukan jin&lt;br /&gt;Berikut ini ada beberapa tanda-tanda yang bisa dikenali dari seseorang yang kemasukan ruh jahat/ kesurupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;    Tanda dalam tidurnya&lt;/li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sulit tidur malam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banyak bangun malam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mimpi yang menakutkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melihat binatang dalam tidurnya seperti kucing, anjing.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Giginya mengerat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tertawa, mengigau, teriak dalam tidur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengaduh-aduh dalam tidur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mimpi jatuh dari tempat yang tinggi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mimpi dirinya di kuburan, tempat-tempat yang kotor atau jalan yang  menakutkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mimpi melihat sesuatu dengan sifat-sifat aneh (tinggi sekali, hitam,  menakutkan dll).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mimpi melihat bayang-bayang dirinya dalam tidurnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tanda saat sadar&lt;/li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pusing terus menerus, dengan catatan bukan pusing karena ada badan yang sakit.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berpaling dari berdzikir kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilang akalnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lemah dan malas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengkerut salah satu syarafnya (selalu tegang).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merasa sakit pada salah satu anggota badan yang dokter tidak mampu mengungkap jenis penyakitnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sempoyongan saat berjalan dan bicaranya tidak jelas. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Terdapat juga cara lain yang bisa digunakan untuk mengenali orang yang kesurupan, yaitu dengan menyenteri bola mata pasien. Pada bola mata akan kita dapati garis-garis seperti jam. Apabila pada titik jam sebelas (pada jam sebelas) ada garis melintang menembus manik mata menuju angka lima (pada jam) itu berarti kesurupan, dan jika tidak ada berarti penyakit lain. Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu wahai saudariku,, apa yang harus kita lakukan jika suatu saat hal itu menimpa salah satu kerabat kita, teman kita, bahkan bisa jadi kita sendiri. Akankah kita menyerahkan kepada pihak yang dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai “orang pinter” sehingga tercampurlah noda-noda kesyirikan dalam diri kita? Jawabannya tentu tidak. Na’udzubillahi min dzalik. Karena agama yang sempurna ini telah menjelaskan berbagai hal tentang cara mencegah maupun mengobati orang yang terkena penyakit tersebut. Sebagaimana dengan dzikir-dzikir yang telah Rasulullah ajarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hati-hatilah wahai saudariku janganlah kita sampai salah mengambil tindakan untuk menangani penyakit tersebut dengan cara-cara yang tidak disyari’atkan, karena saat ini ternyata sudah mulai bermunculan pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh “orang-orang pintar” yang katanya untuk membekali para guru di sekolah dalam menangani hal-hal semacam itu, dimana murid-murid di sekolah tersebut seringkali mengalami kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi untuk orang yang kesurupan itu ada dua cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tindakan preventif (pencegahan sebelum terjadi)&lt;br /&gt;Cara ini dapat ditempuh dengan berupaya menjaga dzikir dan doa pagi dan petang yang shahih, termasuk diantaranya seperti bacaan ayat kursi, sebab orang yang membacanya pada suatu malam, niscaya Allah akan selalu menjaganya dan setan tidak berani mendekatinya hingga datang waktu pagi. Demikian pula surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas serta doa/dzikir pagi dan petang sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah dalam hadits-haditsnya.&lt;br /&gt;2. Mengobati setelah terjadinya kesurupan&lt;br /&gt;Cara ini dapat ditempuh dengan ruqyah syar’iyah, yaitu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang berkaitan tentang ancaman, peringatan dan perlindungan kepada Allah dari syetan, sehingga jin itu keluar dari badan orang yang kesurupan dengan dibarengi keimanan dan tawakal yang mantap kepada Allah bagi orang yang meruqyah dan diruqyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah wahai saudariku apa yang dapat penulis sampaikan. Semoga bermanfaat dan kita senantiasa dilindungi dari perbuatan-perbuatan syirik, yang dapat mengantarkan kita kekal di neraka. Wallahu Musta’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ummu Afra Nana&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;Do’a dan Wirid, Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al Qur’an dan As-Sunnah” oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafidzahullah. Penerbit Pustaka Imam Syafi’i, Bogor&lt;br /&gt;Uyunul Anba fi Thabaqat Al-Athibba’ hal 3 oleh Ibnu Ab ‘Ushibah&lt;br /&gt;Kesurupan Jin (Abu Ubaidah Al-Atsari), Majalah Al Furqon, edisi 10 Th III&lt;br /&gt;Meruqyah Diri Sendiri Sesuai Syar’i. Tim Daar Ibnu Atsir.(Daar An Naba)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sumber : kopas dari muslimah.or.id&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-3615383258154966022?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/3615383258154966022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/06/wahai-saudariku-imanilah-bahwa-jin-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3615383258154966022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3615383258154966022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/06/wahai-saudariku-imanilah-bahwa-jin-itu.html' title='Wahai Saudariku, Imanilah bahwa Jin itu Ada'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-8872453593014688081</id><published>2010-06-01T20:27:00.001+07:00</published><updated>2010-06-01T20:28:39.002+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Pria yang Meninggalkan Shalat Jama’ah Sungguh Merugi</title><content type='html'>Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’ain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh prihatin melihat kondisi umat Islam saat ini. Jika kita sedikit memalingkan pandangan ke masjid-masjid, kita akan menyaksikan bahwa rumah Allah yang ada sangat sedikit sekali dihuni oleh jama’ah ketika mu’adzin meneriakkan hayya ‘ala shalah. Berlatar belakang inilah, dalam risalah yang ringkas ini kami berusaha mendorong setiap orang yang membaca tulisan ini untuk melakukan shalat yang memiliki banyak keutamaan yaitu shalat berjama’ah. Semoga Allah selalu memberi hidayah dan taufik kepada kita sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Shalat Jama’ah Memiliki Pahala yang Berlipat daripada Shalat Sendirian&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;الصَّلاَةُ فِى جَمَاعَةٍ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ صَلاَةً فَإِذَا صَلاَّهَا فِى فَلاَةٍ فَأَتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا بَلَغَتْ خَمْسِينَ صَلاَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat jama’ah itu senilai dengan 25 shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala  50 shalat.” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Kadang keutamaan shalat jama’ah disebutkan sebanyak 27 derajat, kadang pula disebut 25 kali lipat, dan kadang juga disebut 25 bagian. Ini semua menunjukkan berlipatnya pahala shalat jama’ah dibanding dengan shalat sendirian dengan kelipatan sebagaimana yang disebutkan.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Dengan Shalat Jama’ah Akan Mendapat Pengampunan Dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Utsman bin ‘Affan, beliau berkata bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِى الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berjalan untuk menunaikan shalat wajib yaitu dia melaksanakan shalat bersama manusia atau bersama jama’ah atau melaksanakan shalat di masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Setiap Langkah Menuju Masjid untuk Melaksanakan Shalat Jama’ah akan Meninggikan Derajatnya dan Menghapuskan Dosa; juga Ketika Menunggu Shalat, Malaikat Akan Senantiasa Mendo’akannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat seseorang dalam jama’ah memiliki nilai lebih 20 sekian derajat daripada shalat seseorang di rumahnya, juga melebihi shalatnya di pasar. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara mereka berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi masjid, tidaklah mendorong melakukan hal ini selain untuk melaksanakan shalat; maka salah satu langkahnya akan meninggikan derajatnya, sedangkan langkah lainnya akan menghapuskan kesalahannya. Ganjaran ini semua diperoleh sampai dia memasuki masjid. Jika dia memasuki masjid, dia berarti dalam keadaan shalat selama dia menunggu shalat.  Malaikat pun akan mendo’akan salah seorang di antara mereka selama dia berada di tempat dia shalat. Malaikat tersebut nantinya akan mengatakan: Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya. Hal ini akan berlangsung selama dia tidak menyakiti orang lain (dengan perkataan atau perbuatannya) dan selama dia dalam keadaan tidak berhadats. ” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Melaksanakan Shalat Jama’ah Berarti Menjalankan Sunnah Nabi, Meninggalkannya Berarti Meninggalkan Sunnahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata,&lt;br /&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” [6]&lt;br /&gt;Ibnu ‘Allan Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika kalian melaksanakan shalat di rumah kalian yaitu melaksanakan shalat wajib sendirian atau melaksanakan shalat jama’ah namun di rumah (bukan di masjid) sehingga tidak nampaklah syi’ar Islam, sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang yang betul-betul meremehkannya … , maka kalian berarti telah meninggalkan ajaran Nabi kalian yang memerintahkan untuk menampakkan syi’ar shalat berjama’ah. Jika kalian melakukan seperti ini, niscaya kalian akan sesat. Sesat adalah lawan dari mendapat petunjuk.” [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat jama’ah ini ditujukan bagi kaum pria, sedangkan wanita lebih utama shalat di rumahnya berdasarkan kesepakatan kaum muslimin (baca: ijma’ kaum muslimin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan risalah yang singkat ini dapat mendorong kita untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid. Semoga masjid-masjid kaum muslimin dapat terisi terus dengan banyaknya jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan ini masih akan dilanjutkan dengan hukum shalat jama’ah. Semoga Allah memudahkan urusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang, Gunung Kidul, 1 Robi’ul Akhir 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/pria-yang-meninggalkan-shalat-jamaah-sungguh-merugi.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-8872453593014688081?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/8872453593014688081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/06/pria-yang-meninggalkan-shalat-jamaah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/8872453593014688081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/8872453593014688081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/06/pria-yang-meninggalkan-shalat-jamaah.html' title='Pria yang Meninggalkan Shalat Jama’ah Sungguh Merugi'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-3891978571579381743</id><published>2010-05-25T22:27:00.003+07:00</published><updated>2010-05-25T22:30:02.993+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>74 Wasiat Untuk Para Pemuda Muslim</title><content type='html'>Berikut ini adalah wasiyat Islami yang berharga dalam berbagai aspek seperti ibadah, muamalah, akhlaq, adab dan yang lainnya dari sendi-sendi kehidupan. Kami persembahkan wasiyat ini sebagai peringatan kepada pada para pemuda muslim yang senantiasa bersemangat mencari apa yang bermanfaat baginya, dan sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Kami memohon kepada Allah SWT agar menjadikan hal ini bermanfaat bagi orang yang membacanya ataupun mendengarkannya serta memberikan pahala yang besar bagi penyusunnya, penulisnya, yang menyebarkannya ataupun yang mengamalkannya. Cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik tempat bergantung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ikhlaskanlah niat kepada Allah dan hati-hatilah dari riya', baik dalam perkataan ataupun perbuatan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ikutilah sunnah Nabi dalam semua perkataan, perbuatan, dan akhlaq. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bertaqwalah kepada Allah dan ber-azam-lah untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nashuha dan perbanyaklah istighfar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ingatlah bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-gerikmu. Dan ketahuilah bahwa Allah melihatmu, mendengarmu, dan mengetahui apa yang terbesit di hatimu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berimanlah kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta qadar yang baik ataupun yang buruk. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana baik dan mana yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah / syari'at dan mana yang tidak). Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang tidak punya pendirian. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jadilah engkau sebagai orang pertama dalam mengamalkan kebaikan karena engkau akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengikuti / mencontohmu dalam mengamalkannya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peganglah kitab Riyadhush Shalihin, bacalah olehmu dan bacakan pula kepada keluargamu [/orang lain] (demikian juga kitab Zaadul Ma'ad oleh Ibnul Qoyyim). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jagalah selalu wudhumu dan perbaharuilah. Dan jadilah engkau senantiasa dalam keadaan suci dari hadats dan najis. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jagalah selalu shalat di awal waktu dan berjamaah di masijid, terlebih lagi shalat "Isya dan Fajr (Shubuh). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah memakan makanan yang mempunyai bau yang tidak enak/sedap, seperti bawang putih dan bawang merah [termasuk juga petai dan jengkol]. Dan janganlah merokok agar tidak membahayakan dirimu dan kaum muslimin lainnya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jagalah selalu shalat berjamaah agar engkau mendapat kemenangan dengan pahala yang ada pada shalat berjamaah tersebut. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tunaikanlah zakat yang telah diwajibkan dan janganlah engkau bakhil kepada orang-orang yang berhak menerimanya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersegeralah berangkat untuk shalat Jum'at dan janganlah berlambat-lambat sampai setelah adzan kedua karena engkau akan berdosa &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Puasalah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar Allah mengampuni dosa-dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. [Lengkapilah pula dengan puasa-puasa sunnah yang telah dituntunkan oleh Rasulullah saw]. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hati-hatilah dari berbuka di siang hari di bulan Ramadhan tanpa udzur syar'i sebab engkau akan berdosa karenanya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tegakkanlah shalat malam di bulan Ramadhan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah agar engkau mendapatkan ampunan atas dosa-dosamu yanng telah lalu. [Pertahankan pada bulan-bulan berikutnya]. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersegeralah untuk haji dan umrah ke Baitullah Al-Haram jika engkau termasuk orang yang mampu dan janganlah menunda-nunda. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bacalah Al-Qur'an dengan mentadabburi maknanya. Laksanakanlah perintahnya dan jauhi larangannya agar Al-Qur'an itu menjadi hujjah bagimu di sisi Rabbmu dan menjadi penolongmu di Hari Qiyamat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Senantiasalah memperbanyak dzikir kepada Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berdiri. Dan hati-hatilah engkau dari kelalaian. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadirilah majelis-majelis dzikir, karena majelis dzikir termasuk taman syurga. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tundukkan pandanganmu dari aurat dan hal-hal yang diharamkan. Hati-hatilah engkau dari mengumbar pandangan, karena pandangan i tu merupakan anak panah beracun dari anak panah Iblis. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau panjangkan pakaianmu melebihi mata kaki (untuk kaum laki- laki) dan janganlah engkau berjalan dengan kesombongan/keangkuhan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau memakai pakaian sutra dan emas, karena keduanya diharamkan untuk laki-laki. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau menyerupai wanita dan janganlah engkau biarkan wanita- wanita menyerupai laki-laki. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Biarkanlah jenggotmu, karena Rasulullah bersabda, "Cukurlah kumis dan panjangkan jenggot" (HR. Bukhari dan Muslim). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau makan, minum [dan berpakaian] kecuali yang halal agar do'amu di-ijabah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ucapkanlah basmallah ketika engkau hendak makan/minum dan ucapkanlah hamdallah apabila engkau telah selesai. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Makanlah, minumlah, ambillah dan berilah dengan tangan kanan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hati-hatilah dari berbuat kezhaliman karena kezhaliman itu merupakan kegelapan di Hari Qiyamat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau bergaul kecuali dengan orang mukmin dan janganlah dia memakan makananmu kecuali engkau dalam keadaan bertaqwa (dengan ridha dan menyuguhkan makanan yang halal untuknya). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hati-hatilah dari suap-menyuap (kolusi), baik itu memberi suap, menerima suap ataupun menjadi perantaranya, karena pelakunya terlaknat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau menukar keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, karena Allah akan murka kepadamu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Taatilah ulil amri (pemerintah) dalam semua perintah yang sesuai dengan syari'at dan do'akan kebaikan untuk mereka. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hati-hatilah dari bersaksi palsu dan menyembunyikan persaksian. "Barangsiapa menyembunyikan persaksiannya, maka hatinya berdosa. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan" (QS. Al-Baqarah: 283). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajaklah manusia kepada yang ma'ruf (apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya) dan jauhi kemungkaran (apa-apa yang dilarang oleh Allah dan Rosul). "Dan beramar ma'ruf nahi munkarlah seerta sabarlah terhadap apa yang menimpamu" (QS. Luqman : 17). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tinggalkanlah semua hal yang diharamkan, baik yang kecil maupun yang besar. Janganlah engkau bermaksiyat kepada Allah dan janganlah engkau membantu seorang pun dalam bermaksiyat kepada-Nya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau dekati zina. Allah berfirman, "Janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk- buruknya jalan" (QS. Al-Israa: 32). &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wajib bagimu berbakti kepada orang tua dan hati-hatilah dari mendurhakainya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wajib bagimu untuk silaturahmi dan hati-hatilah dari memutuskan hubungan silaturahmi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbuat baiklah kepada tetanggamu dan janganlah menyakitinya. Dan apabila dia menyakitimu, maka bersabarlah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perbanyaklah mengunjungi orang-orang shalih dan saudaramu di jalan Allah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cintalah karena Allah dan bencilah juga karena Allah, karena hal itu merupakan tali keimanan yang paling kuat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wajib bagimu untuk duduk bermajelis dengan orang shalih dan hati-hatilah dari bermajelis dengan orang-orang yang jelek. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersegeralah untuk memenuhi hajat (kebutuhan) kaum muslimin dan buatlah mereka bahagia. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berhiaslah dengan kelemah-lembutan, sabar dan teliti. Hati-hatilah dari sifat keras, kasar dan tergesa-gesa. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah memotong pembicaraan orang lain dan jadilah engkau pendengar yang baik. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal ataupun tidak engkau kenal. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ucapkanlah salam yang disunnahkan, yaitu "assalamu'alaikum" dan tidak cukup hanya dengan isyarat telapak tangan atau kepala saja. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah mencela seorang pun dan mensifatinya dengan kejelekan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah melaknat seorang pun, termasuk hewan atau benda mati. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hati-hatilah dari menuduh dan mencoreng kehormatan orang lain, karena hal itu termasuk dosa yang besar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hati-hatilah dari namimah (mengadu domba), yakni menyampaikan perkataan di antara manusia dengan maksud agar terjadi kerusakan di antara mereka. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hati-hatilah dengan ghibah, yakni engkau menceritakan tentang saudaramu apa- apa yang dia benci jika mengetahuinya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau mengagetkan, menakuti dan menyakiti sesama muslim. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wajib bagimu melakukan ishlah (perdamaian) di antara manusia, karena hal itu merupakan amalan yang utama. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Katakanlah hal-hal yang baik, jika tidak maka diamlah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jadilah engkau orang yang jujur dan janganlah berdusta, karena dusta akan mengantarkan kepada dosa dan dosa mengantarkan kepada neraka. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah engkau bermuka dua. Datang kepada sekelompok orang dengan satu wajah dan data kepada kelompok lain dengan wajah yang berbeda. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah bersumpah dengan selain Allah dan janganlah banyak bersumpah meskipun engkau benar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah menghina orang lain, karena tidak ada keutamaan atas seorang pun kecuali dengan taqwa. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah mendatangi dukun, ahli nujum serta tukang sihir dan janganlah membenarkan [perkataan/ramalan] mereka. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah menggambar gambar manusia dan binatang [makhluk bernyawa]. Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada Hari Qiyamat adalah tukang gambar. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Janganlah menyimpan [memajang] gambar makhluk bernyawa di rumahmu karena akan menghalangi malaikat untuk masuk ke rumahmu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tasymit-kanlah orang yang bersin dengan mengucap, "yarhamukallah" apabila dia mengucapkan , "alhamdulillah". &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jauhilah bersiul dan tepuk tangan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersegeralah untuk bertaubat dari segala dosa dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan karena akan menghapuskannya. Hati-hatilah dari menunda-nunda. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berharaplah selalu akan ampunan Allah serta rahmat-Nya dan berbaik sangkalah kepada Allah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Takutlah kepada adzab Allah dan janganlah merasa aman darinya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersabarlah dari segala musibah yang menimpa dan bersyukurlah dengan segala kenikmatan yang ada. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perbanyaklah melakukan amal shalih yang pahalanya terus mengalir meskipun engkau telah mati, seperti membangun masjid dan menyebarkan ilmu. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mohonlah syurga kepada Allah dan berlindunglah dari neraka.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perbanyaklah mengucapkan shalawat dan salam kepada Rasulullah. Shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, keluarganya dan para shahabatnya hingga Hari Qiyamat.  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;(Disarikan dan diterjemahkan dari buletin berjudul  74 Washiyyah li Asy-Syabab &lt;br /&gt;terbitan Daarul Qashim, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.ummusalma.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-3891978571579381743?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/3891978571579381743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/05/74-wasiat-untuk-para-pemuda-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3891978571579381743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3891978571579381743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/05/74-wasiat-untuk-para-pemuda-muslim.html' title='74 Wasiat Untuk Para Pemuda Muslim'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-1011224271235359876</id><published>2010-04-25T15:46:00.000+07:00</published><updated>2010-04-25T15:46:14.505+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat</title><content type='html'>Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja Anda menjawab, “Tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda, “Ya,” bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah demikian, Saudaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah demikian, Saudaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi menjelaskan makna hadits ini dengan berkata, “Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu. Akan tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-’Ash radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.’” (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِى مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging [1] dibanding makanan lainnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain.” (Hr. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan tetapi mandul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah mengisahkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku.” (Hr. At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.” (Muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.” (Hr. At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, ‘Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci Keberhasilan Rumah Tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berhasil menemukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.” (Qs. al-Baqarah: 228)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shahabat Abdullah bin ‘Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata, “Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta’ala telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’” (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda berdandan? Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar rumah? Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil menawan untuk orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, bahu-membahu, saling melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu prinsip dasar dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai penonton setia ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya. Usahakan sebisa Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ خَرَجَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.” (Hr. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Constance Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair State University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok kedua, yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, penemuan ini bukanlah hal baru, karena secara logika, suami yang dengan rendah hati membantu pekerjaan istrinya pastilah lebih dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan erat dengan keromantisan suami-istri dalam bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Arifin Badri, Lc., M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===&lt;br /&gt;catatan kaki:&lt;br /&gt;[1] Para ulama pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copy and paste : http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun-bukan-malaikat.html&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-1011224271235359876?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/1011224271235359876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/04/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1011224271235359876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1011224271235359876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/04/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun.html' title='Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-6181783497203764967</id><published>2010-04-14T21:18:00.002+07:00</published><updated>2010-04-14T21:22:11.664+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku....&lt;br /&gt;Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; Apakah anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap hari .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda hari ini membaca Al-Qur'an .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang anda baca .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu wa Ta'ala masukkanlah ia ke dalam Surga".&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka". Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya :"Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata :"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". [Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6]&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen) .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati Syahid .? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur". [Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya]&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di waktu-waktu yang mustajab .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama .? [Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar, pent]&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah .? Karena setiap mendo'akan mereka anda akan mendapat kebajikan pula.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala (dan bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala saja .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini : " Allahumma inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. [Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625]&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda berbuat baik kepada tetangga .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian .?&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan .?&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;b style="color: #990000;"&gt;Saudaraku ..&lt;br /&gt;Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Risalah ini dinukilkan dari buku saku Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah, Penerjmeah Fariq Gasim Anuz] &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt; copy paste dari : http://www.almanhaj.or.id/content/1257/slash/0&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-6181783497203764967?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/6181783497203764967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/04/kehidupan-sehari-hari-yang-islami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6181783497203764967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6181783497203764967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2010/04/kehidupan-sehari-hari-yang-islami.html' title='KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-2458187691887741489</id><published>2009-11-26T12:36:00.001+07:00</published><updated>2009-11-26T12:37:19.750+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Selamat Hari Raya Aidil Adha 1430 H</title><content type='html'>Ini tahun ke 5 lebaran haji ga bersama keluarga di kampong, hanya dapat mengaturkan doa untuk orang tua dan adik" di Salo. Sejak merantau hidup di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="color: #660000; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selamat Hari Raya Aidil Adha 1430 H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: #660000;"&gt;Mohon Maaf Lahir dan Bathin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mSAU-WphwfQ/Sw4TIBUMJQI/AAAAAAAAABQ/cngUX84jpGw/s1600/13.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_mSAU-WphwfQ/Sw4TIBUMJQI/AAAAAAAAABQ/cngUX84jpGw/s400/13.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: #660000;"&gt;semoga keimanan dan ketakwaan terus meningkat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="color: #660000;"&gt;semoga selalu istiqamah, amin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-2458187691887741489?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/2458187691887741489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/selamat-hari-raya-aidil-adha-1430-h.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/2458187691887741489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/2458187691887741489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/selamat-hari-raya-aidil-adha-1430-h.html' title='Selamat Hari Raya Aidil Adha 1430 H'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mSAU-WphwfQ/Sw4TIBUMJQI/AAAAAAAAABQ/cngUX84jpGw/s72-c/13.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-6750529629312046991</id><published>2009-11-18T13:51:00.002+07:00</published><updated>2009-11-18T13:52:52.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Fathimah Radiyallahu ‘anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu’anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam  yang hidup mendampingi  beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la.1 Fathimah az-Zahra radiyallahu’anha adalah ratu bagi para wanita di surga (Sayyidah nisa ahlil jannah). Pemahaman beliau tentang arti jilbab yang sesungguhnya sangat layak untuk disimak dan direnungi oleh para muslimah yang sangat merindukan surga dan keridhaan RabbNya. Sudah sempurnakah kita menutup aurat kita seperti apa yang difahami Shahabiyah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku muslimah yang merindukan surga Firdaus al-A’la…Shahabiyah yang mulia ini memandang buruk terhadap apa yang di lakukan wanita terhadap pakaian yang mereka kenakan yang masih menampakkan gambaran bentuk tubuhnya. Apa yang beliau tidak sukai itu beliau sampaikan kepada Asma radiayallahu’anha sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummu Ja’far bahwasanya Fatimah binti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: #990000;"&gt;Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan  tubuhnya.” Asma’ berkata : ‘”Wahai putri Rasulullah maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah?” Lalu Asma’ membawakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar: “Betapa baiknya dan betapa eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali (dibedakan) dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahai Asma’ bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu ) dan jangan ada seorangpun yang menengokku!” Tatkala Fatimah meninggal dunia, maka Ali bersama Asma’ yang memandikannya sebagaimana yang dipesankan.2&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Albani rahimahullah berkata : Perhatikanlah sikap Fatimah radiyallahu anha yang merupakan  bagian dari tulang rusuk Nabi shalallahu alaihi wassalam bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi jika masih hidup, tentunya jauh lebih buruk. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan mereka yang lain. Selanjutnya hendaklah mereka beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ukhti muslimah yang dirahmati Allah,…benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Fitnah yang melanda kaum muslimah begitu deras dan hebat.Jika Fathimah radiyallahu’ anha saja tidak rela jasadnya tergambar bentuk tubuhnya tentulah dapat kita fahami bagaimana beliau mengenakan jilbab di masa hidupnya. Karena beliau sangat memahami perintah jilbab dengan pemahaman yang benar dan sempurna. Pemahaman beliau yang sangat mendalam ini jelas tersirat dari ketidaksukaannya yang beliau pandang sebagai suatu keburukan apabila seorang wanita memakai pakaian yang dapat menggambarkan lekuk tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bandingkanlah dengan apa yang dikenakan oleh sebagian kaum muslimah dewasa ini sangat jauh dari apa yang disyariatkan oleh Rabb mereka. Jauh panggang dari api.Mereka menisbahkan pakaian wanita dengan kerudung ala kadarnya yang sekedar menutupi leher-leher mereka tidak sampai menutupi dada dengan nama pakaian islami atau jilbab. Dan ironisnya yang memakainyapun  merasa bahwa apa yang mereka pakai itu sudah benar karena melihat  para artis di TV mengenakan yang demikian itu jadilah pakaian trendy ini menyebar begitu cepat dan menjadi pakaian pilihan utama mereka. Bahkan tentu terkadang kita melihat saudari kita yang memakai busana muslimah yang justru menambah fitnah karena nampak jelasnya lekuk tubuh mereka dengan penutup kepala yang melilit di leher (sehingga jenjang atau tidaknya bentuk leher terlihat sangat jelas) dan hanya sampai di bagian pundak saja tidak sampai ke dada disambung dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk payudara mereka kemudian  celana ketat yang menambah jelas  lekukan tubuh mereka. Ada juga yang memakai abaya (gamis/pakaian terusan) memilih ukuran yang ketat daripada ukuran besar dan lapang dengan alasan agar nampak cantik dan modis! Sebagian adapula yang memakai penutup kepala dengan menyanggul rambut-rambut mereka hingga ketika mereka berjalan dapat dilihat dengan jelas ikatan rambut tersebut, karena sangat kecilnya penutup kepala yang mereka pakai maka merekapun mengikat rambut tersebut agar tidak menyembul keluar. Bukankah apa yang mereka pakai itu semua  justru yang semestinya mereka jauhi karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: #990000;"&gt;Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) onta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.4&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits lain terdapat tambahan :&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: #990000;"&gt;Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.5&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kemudian lihatlah penjelasan dari Ibnu Abdil Barr rahimahullah ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: #990000;"&gt;Yang dimaksud Nabi shalallahu alaihi wassalam adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.6&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Dari Ummu Alqamah bin Abu Alqamah bahwa ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: #990000;"&gt;Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi ‘Aisyah dengan mengenakan khimar(kerudung) tipis yang dapat menggambarkan pelipisnya, lalu ‘Aisyah pun tak berkenan melihatnya dan berkata : “Apakah kamu tidak tahu apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat An Nuur?!” Kemudian ‘Aisyah mengambilkan khimar untuk dipakaikan kepadanya.6&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Albani menjelaskan perkataan Aisyah radiyallahu anha : Apakah kamu tidak tahu tentang apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat An-Nuur? Mengisyaratkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tipis pada hakikatnya ia belum menutupi tubuhnya dan juga belum melaksanakan firman Allah Subahnahu wa ta’ala yang ditunjukkan oleh Aisyah radiyallahu anha yaitu “Dan hendaklah kaum wanita menutupkan khimar/kerudung pada bagian dada mereka”8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kita melihat perbedaan yang sangat jauh antara generasi Shahabiyah dengan kita? Mereka benar-benar menjadikan jilbab sebagai penutup tubuh dan aurat sebagai bentuk ketaatan pada perintahNya sedangkan kita justru sebaliknya menjadikan jilbab sebagai pembuka fitnah kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah. Jilbab yang difahami shahabiyah sebagai pakaian yang lapang (lebar) yang menutupi tubuh dari atas kepala hingga ujung kaki sedangkan kaum muslimah sekarang menganggap jilbab adalah secarik kain yang digunakan untuk menutupi rambut mereka saja sedangkan bagian-bagian lainnya mereka tutupi dengan bahan yang ala kadarnya yang tidak bisa dikatakan menutupi aurat apalagi menutupi lekuk tubuh mereka. Kepada Allahlah kita memohon pertolongan semoga kaum kita mau kembali kepada Rabb mereka dan  berusaha untuk  menunaikan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya secara sempurna dan menyeluruh. Sebagaimana firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: #990000;"&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Al-Baqarah :208).  &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Wallahu’alam bish-shawwab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini telah di cek oleh : Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Rujukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jilbab Wanita Muslimah menurut Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani,Pustaka Tibyan,Solo.&lt;br /&gt;2. Ringkasan Shahih Muslim, Imam Al-mundziri, Pustaka Amani, Jakarta.&lt;br /&gt;3. Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam, Mahmud al-Istanbuli, Pustaka Tibyan, Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan kaki:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol class="footnotes"&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_0_791"&gt;Hadits yang di riwayatkan Bukhari V/137 dan Muslim no.2450 yang berbunyi :“Wahai Fatimah relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita disurga?….”[Lihat Mengenal Shahabiyah Nabi Shalallahu alaihi wassalam hal :127-128] &lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_1_791"&gt;dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilyah 2/43, Al Bayhaqi 3/34-35 untuk lebih jelasnya bisa di lihat dalam Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashiruddin AlBani, hal 140-141 &lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_2_791"&gt;Jilbab Wanita muslimah hal: 140 &lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_3_791"&gt;dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Al-Mu’jam As-Shaghir” &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;hal. 232 dari hadits Ibnu Amru dengan sanad&lt;i&gt; &lt;/i&gt;shahih lihat jilbab wanita muslimah hal :130 &lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_4_791"&gt;HR.Muslim dari riwayat Abu Hurairah hadits no.1388 &lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_5_791"&gt;dikutip oleh As-Suyuthi dalam&lt;i&gt; &lt;/i&gt;“Tanwirul Hawalik” 3/&lt;i&gt;103&lt;/i&gt; lihat Jilbab Wanita Muslimah hal:131 &lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_6_791"&gt;Ibnu Sa’ad 8/47 lihat Jilbab Wanita Muslimah hal 131 &lt;/li&gt;&lt;li class="footnote" id="footnote_7_791"&gt;idem hal 131 &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&amp;nbsp;copy n paste dari : http://jilbab.or.id/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-6750529629312046991?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/6750529629312046991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/fathimah-radiyallahu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6750529629312046991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6750529629312046991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/fathimah-radiyallahu.html' title='Fathimah Radiyallahu ‘anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-5610286484402925673</id><published>2009-11-16T22:28:00.008+07:00</published><updated>2009-11-17T11:29:59.464+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku, Istriku…*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suami Anda mungkin tidak pernah berkata-kata secara terbuka dan apa adanya kepada Anda. Setiap Anda bertanya kepadanya ia selalu menjawab dengan mendahulukan perasaannya. Akibatnya, Anda tidak bisa puas dengan jawabannya yang memang sangat sedikit.Bila ini terjadi pada suami Anda, maka Anda harus tahu bahwa memang tidak semua laki-laki bisa begitu saja terbuka, namun benar-benar ada tipe suami yang memang pendiam dan pemalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tips yang bisa digunakan oleh istri untuk mengambil hati suaminya yang pendiam dan pemalu yang menurut hasil penelitan telah terbukti banyak memberi faedah bagi istri untuk bisa hidup berbahagia bersama suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jadilah Istri Yang Menghormati Suami&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila istri menghormati suaminya, maka dengan mudahnya suami pun akan menghormatinya. Namun, bila istri tidak bisa menghormati suaminya maka selamanya ia akan menderita disisi suaminya. Mengapa? Apakah memang sikap saling menghormati merupakan kebutuhan asasi bagi suami yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga mereka mewajibkannya atas istri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak istri yang bila telah melahirkan anak suaminya beranggapan bahwa ia akan terus damai disisi suaminya. Ia menyangka akan senantiasa bahagia disisi suaminya hanya dengan telah lahirnya anak suaminya. Akibat dari sangkaan dan duga-duga ini akhirnya banyak istri yang lupa atau tidak lagi memandang perlu sikap hormat kepada suaminya. Ia banyak merendahkan suaminya dan menyepelekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, istri yang menghormati suaminya ialah istri-istri penduduk surga. Tidaklah Anda ingin meneladani mereka? Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="background-color: white; color: #990000;"&gt;Maukah aku kabarkan kepada kalian para istri kalian di surga? Wanita yang penyayang, sangat subur, dan suka kembali berbuat baik yang apabila berbuat aniaya ia akan mengatakan, ‘ Ini tanganku ada diatas tanganmu, aku tidak bisa sekejap pun memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Bukankah meminta maaf merupakan bentuk penghormatan yang tinggi? Bukankah mengulurkan tangan mengharapkan maaf suami merupakan sikap hormat istri kepadanya?  Maka, bila Anda ingin menghormati suami, jadilah istri yang sabar atas kekhilafannya. Jadilah istri yang tidak pernah menentang suami saat ia marah. Jadilah istri yang menghargai dan menghormati cemburu suami. Jadilah istri yang bisa menjaga suami. Jadilah istri yang tidak enggan meminta maaf. Enggan meminta maaf suami adalah bukti kesombongan istri. Tunjukkan rasa hormat dan perhatian Anda kepada suami dihadapan orang lain, baik saat ia bersamamu maupun saat ia tidak hadir disisimu. Dengan begitu, Anda telah menghormatinya dan insya Allah Anda akan senantiasa bahagia disisinya. Perkataan yang mudah terucap dan mudah menghancurkan rumah tangga ialah, “ Aku tidak akan menghormatimu lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jadilah Istri Yang Bertanggung Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak istri mengeluhkan perihal suaminya yang tidak bertanggung jawab. Sementara banyak pula suami yang menganggap istrinya tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, penting sekali kita menilik kisah Asma’, putri Abu Bakar ash Shidiq. Ia adalah istri yang ikut memikul tanggung jawab dirumah suaminya secara sempurna. Bahkan ia tetap menjaga dan menghormati perasaan serta kecemburuan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya ialah Zubair, seorang sahabat yang fakir. Asma’ pun tahu bahwa suaminya sangat membutuhkan kesiapannya untuk ikut memikul tanggung jawab keluarga bersamanya. Ia biasa mengurusi makanan kuda Zubair, menjahit tempat airnya, menumbuk gandum, mengusung biji-bijian dari kebun dan lain-lainnya. Namun begitu, ia sangat menyadari bahwa keadaanya tidak boleh mengurangi rasa hormatnya kepada suaminya. Ia tetap menjaga perasaan suaminya dan kecemburuannya. Ia lebih memilih mengusung biji-bijian diatas pundaknya dengan berjalan kaki daripada naik untuk padahal ada kaum laki-laki bersamanya. Hal itu hanya demi menghargai kecemburuan suaminya. Sehingga dihadapan istri yang sangat menghargai dan bertanggung jawab inilah sosok seorang suami pun luluh hatinya sehingga ia berkata, “ Demi Allah, pengorbananmu untuk membawa biji-bijian itu jauh lebih berat bagiku daripada dudukmu diatas unta Rasulullah shalallahu aalaihi wassalam”.Memang , Asma’ lebih mendahulukan kecemburuan suaminya sehingga tidak menerima tawaran Rasulullah Shalallahualaihi wassalam untuk naik di unta beliau saat mengusung biji-bijian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jadilah Istri Yang Terbuka dan Menghargai Perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenteraman perasaan dipengaruhi oleh terungkapnya isi hati pasutri. Ungkapan isi hati tentang rasa cinta kasih istri terhadap suami merupakan factor utama untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Para suami sangat membutuhkan hal itu, sebagaimana istripun membutuhkannya. Bahkan Rasulullah Shalallahu aalaihi wassalam membolehkan istri berdusta dalam pengungkapan rasa cinta dan kasihnya terhadap suaminya demi terwujudnya kehangatan hubungan berumah tangga dan demi terpeliharanya ikatan pernikahan.2  Lalu,mengapa pasutri tidak melakukannya? Mengapa para istri tidak mengutarakan isi hatinya kepada suaminya tentang sesuatu yang bisa membahagiakan kehidupan rumah tangganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Percayalah Kepada Suamimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa cemburu merupakan bukti yang sangat kuat akan besarnya cinta dan kasih istri kepada suaminya. Sehingga rasa cemburu terkadang dibutuhkan untuk mengungkapkan isi hati istri kepada suaminya bahwa ia mencintai dan mengasihinya. Bahkan, sifat pencemburu merupakan hal yang lazim bagi wanita. Namun cemburu ada dua, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam:&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: #990000;"&gt;Ada diantara sifat cemburu ada yang dicintai dan ada pula yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah adalah cemburu dalam keragu-raguan, sedangkan cemburu yang dibenci oleh Allah ialah cemburu tidak dalam keragu-raguan&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Cemburu tidak boleh menghilangkan kepercayaan istri kepada suaminya dengan memastikan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, misalnya si istri mengatakan: “ Mengapa kamu telat pulang?” atau “ Darimana saja tadi kamu pergi?” atau “ Berapa banyak wanita yang bekerja ditempat kerjamu?” Semua perkataan ini dan yang senada ialah cemburu yang tidak baik sebab didasari penetapan bahwa suaminya telah salah dan menyeleweng, bukan dibangun diatas kepercayaan atau sekadar duga-duga dan rasa ragu yang akan hilang dengan penjelasan dari suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jadilah Istri Yang Berakhlak Terpuji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami yang shahih akan merasa bahagia dan terpenuhi kebutuhan asasinya bila beristrikan seorang wanita yang baik akhlaknya. Wanita yang buruk ialah wanita yang perkataannya selalu bermakna ancaman, ucapan dan suaranya kasar, tidak mau tahu kebaikan orang lain atasnya, dan suka mencari-cari keburukan orang lain. Selain itu, ia juga tidak mengasihi suami, sedikit rasa malunya, suka mencela, pemarah, rumahnya kotor, suka menunjuk dengan tangan dan jarinya, biasa berdusta, dan selalu meneteskan air mata buaya. Istri yang berakhlak terpuji tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Bahkan, disaat ia sedang cemburu sekalipun, ia hanya akan menyebut kebaikan suami yang tidak bisa tidak harus membuatnya cemburu.Semoga dengan 5 hal in Anda, para istri , akan berbahagia bersama suami Anda. Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://jilbab.or.id/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-5610286484402925673?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/5610286484402925673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/suami-anda-mungkin-tidak-pernah-berkata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5610286484402925673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5610286484402925673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/suami-anda-mungkin-tidak-pernah-berkata.html' title='Dengan 5 Hal Ini, Kau Akan Berbahagia Bersamaku, Istriku…*'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-1438693829349929365</id><published>2009-11-10T06:09:00.003+07:00</published><updated>2009-11-10T06:11:00.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kampar'/><title type='text'>Bahasa Ocu Ciek lu</title><content type='html'>&lt;div style="background-color: #cfe2f3;"&gt;La lamo ndak manuli dalam bahasa ocu do&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #cfe2f3;"&gt;bahasa ocu ko agaknyo samo dengan bahasa lintau&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #cfe2f3;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: #cfe2f3;"&gt;kien komai kaulak kamudiok&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: #9fc5e8;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-1438693829349929365?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/1438693829349929365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/bahasa-ocu-ciek-lu.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1438693829349929365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1438693829349929365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/bahasa-ocu-ciek-lu.html' title='Bahasa Ocu Ciek lu'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-7325597398205595092</id><published>2009-11-04T14:49:00.016+07:00</published><updated>2009-11-10T16:27:42.383+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internet'/><title type='text'>Setting sound pada ubuntu 9.04</title><content type='html'>Setting sound pada laptop compaq cq40 pada ubuntu 9.04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buka Terminal. shortcut : alt+f2 akan muncul sejenis run, ketikkan &lt;i&gt;gnome-terminal&lt;/i&gt; kemudian jalankan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Edit driver sound pada file alsa-base.conf yang terletak di &lt;i&gt;/etc/modprobe.d/&lt;/i&gt; maka kita ketik di terminal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;sudo gedit /etc/modprobe.d/alsa-base.conf&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;3. Pada baris paling akhir dari file &lt;i&gt;alsa-base.conf&lt;/i&gt; tersebut, tambahkan baris-baris sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;options snd-hda-intel enable_msi=1&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Lalu save file tersebut, dan keluar dari editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Buka Menu &lt;i&gt;System &amp;gt; Preferences &amp;gt; Sound&lt;/i&gt;, ubahlah semua driver setting menjadi ALSA – Advanced Linux Sound Architecture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Selanjutnya kita akan mengedit file group yang terletak di &lt;i&gt;/etc/&lt;/i&gt;, gunakan perintah :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;sudo gedit /etc/group&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;6. Carilah baris yang berisi &lt;i&gt;audio:x:29:pulse&lt;/i&gt; dan editlah menjadi &lt;i&gt;audio:x:29:username,pulse&lt;/i&gt;. Tanpa tanda kutip. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;audio:x:29:abdul,pulse&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;7. Save file tersebut, lalu keluar dari editor. Restart Ubuntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;InsyaAllah akan berhasil.&lt;br /&gt;Sumber : berbagai sumber hasil searching di google&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-7325597398205595092?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/7325597398205595092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/setting-sound-pada-laptop-compaq-cq-40.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/7325597398205595092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/7325597398205595092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/setting-sound-pada-laptop-compaq-cq-40.html' title='Setting sound pada ubuntu 9.04'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-9038646259104881011</id><published>2009-11-04T14:36:00.013+07:00</published><updated>2009-11-04T14:48:56.886+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internet'/><title type='text'>Seting koneksi pidgin pada ubuntu 9.04</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jalankan pidgin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemudian edit akun yang telah anda buat, jika belum terdapat akun, tambahkan akun untuk login. Misalnya dengan menambahkan akun yahoo&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Klick modify pada akun anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ganti alamat servernya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cn.scs.msg.yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;restart pidgin anda. insyaAllah koneksi pidgin akan lancar&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-9038646259104881011?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/9038646259104881011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/seting-koneksi-pidgin-pada-ubuntu-904.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/9038646259104881011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/9038646259104881011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/11/seting-koneksi-pidgin-pada-ubuntu-904.html' title='Seting koneksi pidgin pada ubuntu 9.04'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-6888150461462205597</id><published>2009-06-30T12:17:00.003+07:00</published><updated>2009-06-30T12:22:12.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemrograman'/><title type='text'>Free Pascal</title><content type='html'>Download Free Pascal dan Dokumentasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="ftp://ftp.freepascal.org/pub/fpc/dist/2.2.4/i386-win32/fpc-2.2.4.i386-win32.exe"&gt;FreePascal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-6888150461462205597?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/6888150461462205597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/06/free-pascal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6888150461462205597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6888150461462205597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/06/free-pascal.html' title='Free Pascal'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-3570379167324355976</id><published>2009-02-11T18:18:00.005+07:00</published><updated>2009-02-11T18:44:24.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internet'/><title type='text'>Manual HTML</title><content type='html'>Download manual HTML dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/3486615/html2k11.pdf.html"&gt;Manual HTML&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah di donlot, ganti ekstensinya menjadi .chm&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-3570379167324355976?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/3570379167324355976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/02/manual-html.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3570379167324355976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3570379167324355976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/02/manual-html.html' title='Manual HTML'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-5862422578498749429</id><published>2009-02-05T10:45:00.002+07:00</published><updated>2009-02-05T10:53:00.138+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Bekal-Bekal Menuju Pernikahan</title><content type='html'>http://buku-islam.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Bekal-Bekal Menuju Pernikahan&lt;br /&gt;Penulis : DR. 'Abdul 'Azhim bin Badawi al Khalafi&lt;br /&gt;Penerbit : Media Tarbiyah&lt;br /&gt;Cetakan : Cet. I, Agustus 2007&lt;br /&gt;Halaman : 80&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menjelaskan hal hal yang perlu diketahui untuk menjadi bekal menuju pernikahan. Tentang hukum pernikahan, kriteria calon istri dan suami yang baik, melihat wanita yang dilamar, meminang, akad nikah, wajibnya meminta izin si wanita, mahar, dll.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ringkasan ini akan saya kutipkan sebagian dari isi buku tersebut sebagai gambaran isinya. Tentunya dengan meringkasnya. Kemudian footnote pun tidak saya sertakan seluruhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Melihat Wanita yang Dilamar]&lt;br /&gt;-----------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa ingin meminang seorang perempuan, maka dianjurkan melihatnya terlebih sebelum memutuskan untuk melamar. Landasan dalilnya adalah hadits Muhammad bin Maslamah, ia berkata, "Aku meminang seorang perempuan. Aku lantas mengendap endap untuk mengintipnya. Saat itu, kulihat ia sedang&lt;br /&gt;berada di dekat pohon kurma miliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada yang berkata padaku, 'Apakah pantas engkau melakukan ini, padahal engkau adalah Shahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam?' &lt;br /&gt;Aku pun menjawab, "Aku mendengar Rasululllah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), &lt;br /&gt;'Jika Allah telah menumbuhkan keinginan meminang wanita pada hati seorang pria, maka tidak mengapa melihatnya.'" (Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1510)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari al Mughirah bin Syu'bah, ia berkata, &lt;br /&gt;"Aku menemui Nabi shallallahu'alaihi wa sallam lalu kuceritakan pada beliau tentang wanita yang akan kupinang. Beliau pun bersabda (yang artinya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Pergi dan lihatlah dia. Karena yang seperti itu lebih mengekalkan hubungan&lt;br /&gt;kalian.'" (Shahih: [Shahiih Sunan at Tirmidzi (no. 868)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Saatnya Meminang]&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminang (khitbah) artinya meminta kesediaan wanita untuk dinikahi dengan cara yang telah dikenal masyarakat. Jika setuju, maka itu sekedar janji untuk nikah. Karena itu, wanita tadi sama sekali belum halal bagi si pelamar. Status wanita tadi sama dengan wanita lain yang bukan mahramnya hingga dilaksanakan akad nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak halal bagi seorang muslim meminang wanita yang sudah dilamar saudara muslimnya yang lain. Hal ini berdasarkan ucapan Ibnu 'Umar yang berbunyi, &lt;br /&gt;"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kalian membeli barang yang sedang dibeli saudara kalian. Beliau juga melarang seorang laki laki meminang wanita yang dilamar saudaranya. Kecuali si pelamar meninggalkannya atau si pelamar mengizinkan laki laki tadi." (Shahih: [Shahiih Sunan an Nasa-i (no. 3037)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Wajibnya Meminta Izin Si Wanita]&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pernikahan tidak sah tanpa adanya wali, maka sebelum menikahkan, WAJIB bagi wali meminta izin wanita yang menjadi tanggungannya. Jika si wanita tidak rela, wali tidak boleh memaksanya menikah. Jika akad nikah tetap dilaksanakan, maka wanita tadi berhak mengajukan pembatalan akad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah dimintai pendapat. Dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah dimintai izin." Para shahabat bertanya, "Bagaimana tanda persetujuannya?" Beliau pun menjawab, "Apabila ia diam saja." (Muttafaq 'alaih: [Shahiih al Bukhari (Fat-hul Baari (IX/191, no. 5136)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Khansa' binti Khaddam al Anshariyyah, ia mengatakan bahwa ayahnya menikahkan dirinya yang telah menjanda, padahal ia tidak menyetujuinya. Ia pun lantas menemui Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan beliau pun tidak mengakui (tidak sah-pent) pernikahannya. (Shahih: [Irwaa ul Ghaliil (no. 1830)], Shahiih al Bukhari (Fathul Baari (IX/194, no. 5138).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Ada seorang gadis menemui Nabi shallallahu'alaihi wa sallam. Dia mengadukan ayahnya yang menikahkan dirinya, padahal dia tidak menyukainya. Kemudian Nabi shallallahu'alaihi wa sallam memberikan hak untuk memilih kepada wanita tersebut. (Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1520)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan buku ini dibuat oleh Abu Isa Hasan Cilandak&lt;br /&gt;di Depok, 31 Januari 2009 jam 14.37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/45305&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-5862422578498749429?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/5862422578498749429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/02/bekal-bekal-menuju-pernikahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5862422578498749429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5862422578498749429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/02/bekal-bekal-menuju-pernikahan.html' title='Bekal-Bekal Menuju Pernikahan'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-2752705417254039762</id><published>2009-01-29T17:39:00.010+07:00</published><updated>2009-02-14T13:49:55.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Waspada SMS Kesyirikan Di televisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fakta tentang Iklan reg ... kirim ke ... :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Diberitakan di detik.com bahwa sms Ki Joko Bodo telah laris dalam 2 pekan sekitar 70.000 sms (sekitar bulan April)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Iklan semacam ini telah di respon oleh Komite Penyiaran Indonesia (KPI) dan dianggap telah melanggar UU penyiaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- KPI memperlakuan terhadap tiga iklan itu tak sama. Untuk iklan yang menampilkan Mama Lauren dan Deddy Corbuzier, KPI masih memberi maaf. Iklan mereka tetap boleh terus asalkan harus tayang di atas jam 22.00 WIB. Sementara untuk iklan dengan bintang Ki Joko Bodo, KPI tidak memberi ampun. Harus di-stop.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;- Alasan KPI bahwa iklan yang dibintangi Deddy dan Mama Lauren memang bernada supranatural. Tetapi, KPI tidak menganggapnya sebagai bentuk iklan yang melecehkan agama, juga tidak bertentantangan dengan nilai-nilai agama. Sasa Djuarsa Sendjaja, Ketua KPI mengatakan, “Kalimat di iklan itu “saya bisa bantu anda dalam kesulitan-kesulitan”, itu kan masih mirip konsultan. Atau juga “saya bisa memprediksi kira-kira apa yang akan terjadi”, itu juga kayak perhitungan konsultan, meski juga tetap supranatural. Dalam standar KPI, iklan-iklan yang seperti itu boleh, tapi harus tayang di atas jam 10 malam. Tidak boleh di jam tayangan utama TV atau prime time,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Dikatakan Sasa, iklan Ki Joko Bodo itu mendapat protes dari banyak kalangan. Baik itu dari tokoh masyarakat, pemuka agama, guru, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang ingin kita tinjau adalah bagaimanakah hukumnya hal yang semacam ini ditinjau dari segi syariat Islam ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah, ada beberapa yang perlu kita tinjau mengenai konten iklan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siapakah yang mengetahui yang Ghaib atau apa yang akan menimpa pada seseorang di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lain hanyalah Allah semata, sebagaimana dalam firman-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh’, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (Qs. An Naml: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Nabi dan Rasul juga bisa mengetahui yang ghoib dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah, dalam surat al-Jinn ayat 26-27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hukumnya orang yang mengetahui yang Ghaib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya, Apa hukum orang yang mengaku mengetahui yang ghaib ? Beliau menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hukum orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib adalah kafir, karena ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah?, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan [An-Naml : 65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memerintahkan kepada NabiNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada manusia bahwa tidak ada seorangpun di bumi maupun di langit yang mengetahui ilmu ghaib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghaib, maka ia telah mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang khabar ini. Kita tanyakan kepada mereka : Bagaimana mungkin kalian mengetahui yang ghaib, sedangkan Nabi saja tidak mengetahui ? Apakah kalian lebih mulia daripada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Jika mereka menjawab : Kami lebih mulia daripada Rasul Shallallahu ’alaihi wa sallam, maka mereka telah kafir karena ucapan itu. Jika mereka mengatakan : Bahwa Rasul Shallallahu alaihi wa sallam lebih mulia, maka kami katakan : Kenapa Rasul tidak mengetahui yang ghaib, sedangkan kalian mengetahui ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridahiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya . [Al-Jin : 26-27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah ayat kedua yang menunjukkan atas kafirnya orang yang mengetahui ilmu ghaib. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan NabiNya Shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengabarkan kepada manusia dengan firmanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Katakanlah : Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku?. [Al-An’aam : 50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bertanya kepada peramal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan tiga keadaan orang yang mendatangi dukun atau peramal:&lt;br /&gt;Orang yang datang kepada dukun atau peramal lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya. Ini diharamkan. Hukuman bagi pelakunya ialah tidak diterima sholatnya selama 40 malam, sebagaimana termaktub dalam shahih Muslim bahwa Nabi shallahu’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari ”&lt;br /&gt;Orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dan mempercayai apa yang diberitakannya, maka ini merupakan kekafiran kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena ia mempercayai sang dukun mengetahui perkara ghaib, sedangkan mempercayai seseorang tentang pengakuannya mengetahui perkara ghaib adalah mendustakan firman Allah ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh’, …” (Qs. An Naml: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena disinyalir dalam hadist shahih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad? (Riwayat Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya untuk menjelaskan ihwalnya kepada manusia, dan bahwasanya itu adalah perdukunan, pengelabuhan dan penyesatan. Ini tidak mengapa. Dalil mengenai hal itu, bahwa Nabi shallahu’alaihi wasallam kedatangan ibnu shayyad, lalu Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu untuknya dalam dirinya, lalu beliau bertanya kepadanya, apakah yang beliau sembunyikan untuknya ? ia menjawab, ”Asap”. Nabi shallahu’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pergilah dengan hina, kamu tidak akan melampaui kemampuanmu.” (Riwayat Bukhori dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Terkadang Ramalan Tersebut Benar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tukang dukun alias tukang ramal terkadang membawakan kabar yang benar, dan ini tidaklah membuat kita heran karena Nabi shllahu’alaihi wa sallam telah mangabarkan kepada kita bagaimana caranya para peramal dan tukang dukun tersebut ’secara kebetulan’ mengetahui masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila Alloh menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: ‘Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar’. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itulah, (syaithan-syaithan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: Sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya- maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi kadangkala syaithan penyadap berita itu terkena syihab (panah api) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadang kala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal meIakukan seratus macam kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan: ‘Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)’, sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari Iangit.” (HR. Al Bukhori).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita tidak perlu heran jika perkataan tukang ramal tersebut ada yang benar, karena sudah jelas seperti yang di kabarkan oleh hadist Nabi shallahu’alaihi wa sallam di atas. Dan yang perlu kita renungkan ….mengapa syaitan tersebut mau-maunya berusaha untuk mencuri berita dari langit yang dijaga ketat oleh panah api hanya untuk disampaikan kepada manusia melalui tukang ramal ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lain adalah mereka menginginkan kekufuran kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala supaya menjadi temannya kelak di neraka. Bukankah Iblis telah berjanji kepada Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (al-Hijr: 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam al-Hijr ayat 42-43:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Na’udzubillah minasysyaithon ar-rojiim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Meminta Pertolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta pertolongan dibagi manjadi empat bagian.&lt;br /&gt;Meminta pertolongan kepada Allah azza wa jalla dan ini hukumnya wajib. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah : 5)&lt;br /&gt;Meminta pertolongan kepada mayyit, makhluk hidup yang tidak dapat dilihat dan tidak mampu memberikan keselamatan maka hal ini termasuk syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Meminta pertolongan kepada dukun dan tukang ramal masuk kedalam kategori ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah azza wa jalla berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu pun menambah dosa bagi mereka.” (Al-Jin: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu; jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, adalah termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (Yunus: 106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta pertolongan kepada makhluk hidup yang mengetahui dan mampu memberikan pertolongan maka hal ini hukumnya boleh. Sebagaimana kisah Musa ’alaihissalam dalam al-Quran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”…Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. ….”(al-Qoshshosh ayat 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara contoh pertolongan jenis ini adalah pertolongan minta keamanan kepada pak polisi dari kejaran penjahat, dan semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memberikan pertolongan, maka dalam rangka meluruskan tauhid sudah semestinya kita meyakinkan kepada yang kita tolong bahwa dia hanyalah sebab atau perantara sedangkan Allah lah yang dapat memberikan manfaat maupun mudharat kepada kita, dan tidak ada yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kecuali Dia. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya, Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hambaNya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memohon pertolongan kepada makhluk hidup yang tidak mampu memberikan pertolongan tanpa meyakini bahwa dia memiliki kekuatan tersembunyi. Maka hal ini merupakan tindakan sia-sia atau ejekan terhadap orang yang dimintai untuk menolongnya. Misalnya saat kita tenggelam meminta bantuan kepada orang yang tangannya buntung untuk menyelamatkan kita. Tindakan ini dilarang karena alasan di atas dan karena dikhawatirkan orang lain akan beranggapan bahwa orang yang buntung tersebut memiliki kekuatan tersembunyi yang dapat menyelamatkan orang dari kesusahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat dipetik dari pembahasan di atas&lt;br /&gt;- Hanya Allah yang mengetahui yang ghaib dan apa yang akan terjadi di masa depan.- Nabi atau Rasul-Nya juga bisa mengetahui beberapa kejadian di masa depan dengan kehendak-Nya (yang disebut mukjizat).- Barang siapa yang mengaku mengetahui yang ghaib, maka dia kafir. Hukum ini berlaku secara umum.- Sama saja apakah disebut dukun, peramal, para normal, orang pintar, jika mereka bisa mengetahui yang ghaib maka dihukumi sama.- Sama saja hukumnya apakah ramalan seorang dukun peramal atau ramalan bintang (horoscope).- Ramalan dukun atau ramalan bintang (horoscope) memang terkadang benar dan sering salah, maka jangan tertipu dengan hal ini.- Perhatikanlah pada seringnya ramalan tersebut salah, jangan pada sedikitnya ramalan tersebut benar.- Pada dasarnya manusia biasa tidak akan pernah bisa menerawang masa depan , mengetahui yang ghaib, atau memiliki kesaktian mandraguna yang dapat dikendalikan sekehendaknya sendiri kecuali dia telah dibantu oleh Jin.- Memprediksi atau forecasting secara ilmiah dibolehkan misalnya prakiraan cuaca, prediksi permintaan pasar, prediksi penyakit dalam kedokteran, dan sebagainya. Karena hal yang semacam ini bisa didapatkan dengan adanya penelitian yang ilmiah atau data-data historis dengan bantuan komputer atau sejenisnya yang memungkinkan bisa mengetahui peluang untuk kejadian yang akan datang tanpa adanya bantuan Jin.- Meramal atau minta diramal karena tanda-tanda secara dhohir atau lahir atau kejadian alam yang sudah maklum dimengerti oleh umum hukumnya diperbolehkan, misalnya meramalkan akan turun hujan malam ini, karena sekarang mendung. Hal ini diperbolehkan tentu saja dengan tetap menyandarkan kepada kehendak Allah dengan perkataan InsyaAllah.&lt;br /&gt;Meminta tolong kepada manusia diperbolehkan dengan syarat manusia tersebut terlihat mampu untuk menolong kita dan masih dalam batas kewajaran kemampuan manusia tersebut sebagai manusia.- Dampak negatif dan bahayanya televisi, yang hanya dengan iklan semacam diatas menjadikan ummat Islam terancam akan terhapus sholatnya 40 hari dan bahkan terancam kafir dengan apa yang diturunkan oleh Nabi shallahu’alaihi wa sallam. Juga bahaya musik dan lagu yang haram, melalaikan dan memalingkan kita dari mendengarkan murottal al-Quran, membaca al-Quran, apalagi mempelajari bacaannya secara tartil (tajwid) dan mengaji tafsirnya. Maka benarlah keluhan Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam kepada Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.”” (al-Furqon ayat 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Seruan kepada yang berwewenang untuk selalu menyeleksi tayangan-tayangan di televisi terutama yang berbau kesyirikan apapun wujudnya, semisal klenik, dukun, ritual-ritual kejawen, dan sejenisnya entah itu berupa iklan atau sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Seruan kepada ummat Islam supaya mempelajari bagaimana itu mentauhidkan Allah secara benar dan mempelajari hakikat syirik secara detail beserta cabang-cabangnya supaya dapat menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya Allah selamatkanlah aku, keluargaku, dan ummat muslim negeri ini dari kesyirikan kepadamu, apapun bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamatkanlah aku, keluargaku dan ummat muslim negeri ini dari fitnah televisi yang didalamnya tidak lepas dari musik yang memalingkan dari Mu, wanita-wanita yang mengumbar aurotnya, syubhat kesyirikan, dan berbagai syubhat-syubhat lain yang ada di dalamnya. Amiin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuban, 26 Juli 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;1. Utsuluts tslatsah syarah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin&lt;br /&gt;2. Majalah Nikah 04 Vol. 07&lt;br /&gt;3. Almanhaj.or.id&lt;br /&gt;4. http://beritacerita.blogspot.com/2008/04/soal-iklan-sms-ramalan-di-tv-ki-joko.html&lt;br /&gt;5. http://www.detiknews.com/read/2008/04/11/161254/922102/10/iklan-ramalan-ki-joko-bodo-sedot-70000-sms-dalam-2-pekan&lt;br /&gt;6. http://muslim.or.id/aqidah/mendatangi-pelayan-setan.html&lt;br /&gt;7. http://muslim.or.id/aqidah/pencuri-berita-langit.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/08/waspada-sms-kesyirikan-di-televisi.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-2752705417254039762?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/2752705417254039762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/waspada-sms-kesyirikan-di-televisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/2752705417254039762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/2752705417254039762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/waspada-sms-kesyirikan-di-televisi.html' title='Waspada SMS Kesyirikan Di televisi'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-7270767187676595638</id><published>2009-01-29T17:33:00.008+07:00</published><updated>2009-02-05T10:54:06.186+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Membongkar Kesesatan Doraemon Cs</title><content type='html'>Anak-anak ibarat "kertas putih" yang dapat dituliskan apa saja pada dirinya. Pada masa anak-anak, apa saja yang dilihat dan didengar dapat membekas di dalam sanubarinya yang masih polos, jika telah terukir di dalam hatinya, akan tergambar dan tersalurkan jika kelak mereka menjadi dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dipungkiri lagi, banyak beredar kisah-kisah menarik yang dikemas sedemikian rupa agar disukai anak-anak; kebanyakannya termasuk kisah-kisah fiktif yang dibumbui dengan cerita-cerita kebohongan, syirik, kebobrokan akhlaq, dan gambar bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, kita dapat melihat betapa banyak anak-anak muslim yang lebih mengenal tokoh-tokoh fiktif hasil produksi orang-orang kafir daripada mengenal tokoh-tokoh muslim, seperti para sahabat, dan ulama’ Salaf; betapa banyak anak-anak muslim yang menghafal cerita-cerita khurafat dibandingkan kisah-kisah penuh ibroh (pelajaran) yang telah diceritakan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak-anak bergerombol di depan televisi tak ada satu orang tua pun yang bergeming dan prihatin sikap anak-anaknya. Padahal apabila kita perhatikan, maka nasib anak-anak kita berada dalam kondisi memprihatinkan. Bagaimana tidak, sementara film-film kartun tersebut mengajarkan kepada mereka pelanggaran-pelanggaran syariat Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tulisan yang ada di depan Anda ini akan membongkar kesesatan, dan penyimpangan beberapa film kartun yang paling populer di tengah-tengah masyarakat yang menyesatkan dan meninabobokkan cikal bakal umat ini.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doraemon si Boneka Ajaib&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon kabarnya, Doraemon bisa pergi menjelajah di masa lalu dan di masa yang akan datang. Katanya, ia dapat mengadakan sesuatu yang belum ada menjadi ada dengan "kantong ajaibnya". Dalam kartun, ia digambarkan sebagai tempat untuk dimintai segala sesuatu yang ghaib oleh temannya. Lihatlah bagaiman film kartun tersebut betul-betul menyimpang dari aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu telah ditetapkan waktu dan ajalnya oleh Allah -Ta’ala-. Makhluk tak mampu mengatur waktu, baik itu memajukannya atau mengundurkannya. Makhluk tak akan mampu menyebrang dari zaman kekinian menuju zaman lampau atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya". (QS. Al-A’raaf: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartun Doraemon telah mengajarkan aqidah (keyakinan) batil dalam benak anak-anak kita tentang adanya makhluk yang memiliki kemampuan yang menyamai Allah -Ta’ala- ; makhluk ini mampu mengadakan segala sesuatu yang belum ada menjadi ada. Padahal telah paten dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa tak ada makhluk yang mampu melakukan segala sesuatu yang ia kehendaki, karena itu semua ada dalam kekuasaan Allah; itu hanyalah sifat yang dimiliki Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berfirman,&lt;br /&gt;"Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. Al-Baqoroh:253)&lt;br /&gt;" Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki". (QS.Huud :107)&lt;br /&gt;Tak terasa si Doraemon pun mengajari anak kecil untuk meminta dan berdoa kepada selain Allah dalam perkara yang tak mampu dilakukan oleh seorang makhluk, hanya bisa dilakukan oleh Allah -Ta’ala- .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Azza wa Jalla- berfirman,&lt;br /&gt;"Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada seseorangpun di dalamnya di samping Allah". (QS. Al-Jin:18 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata, "Firman Allah ini adalah celaan bagi orang-orang musyrikin saat mereka berdoa kepada selain Allah di samping Allah di Masjidil Haram. Mujahid berkata, "Dulu orang-orang Yahudi dan Nashrani, jika masuk ke gereja, dan kuil mereka, maka mereka mempersekutukan Allah (dalam beribadah). Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya, dan kaum mukminin agar mereka memurnikan doanya hanya kepada Allah, jika mereka masuk ke semua masjid". [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (19/21)]&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Dragon Ball&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini dalam film ini banyak mengandung unsur kebatilan, seperti adanya penyembahan dewa-dewa seperti Dewa Emperor, Dewa Bumi, Dewa Gunung, Dewa Naga, dan lain-lain. Keyakinan ini seluruhnya berasal dari agama Budha, Hindu dan Shinto yang penuh dengan kebatilan dan kesesatan, sementara Allah hanyalah meridhoi Islam sebagai agama yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imron : 19)&lt;br /&gt;Mufassir ulung, Al-Imam Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata, "Firman Allah -Ta’ala- tersebut merupakan pengabaran dari-Nya bahwa tak ada agama di sisi-Nya yang Dia terima dari seorang pun selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul dalam perkara yang mereka diutus oleh Allah dengannya dalam setiap zaman sampai mereka (para rasul itu) ditutup dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang telah menutup semua jalan menuju kepada-Nya, selain dari arah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang setelah diutusnya Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menemui Allah dengan suatu agama yang tidak berdasarkan syari’atnya, maka agama itu tak akan diterima". [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (1/471)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, agama apapun selain Islam, seperti agama Buddha, Hindu, Shinto, dan lainnya, semuanya tak akan diterima oleh Allah, dan pelakunya akan merugi, karena kekafiran dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;"Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS. Ali Imron: 85 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Imam Ahli Tafsir, Abul Fadhl Mahmud Al-Alusiy-rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini, "Allah -Ta’ala- menjelaskan bahwa barangsiapa yang–setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memilih selain syari’at beliau, maka agama itu tak akan diterima darinya. Sedangkan diterimanya sesuatu adalah diridhoinya, dan diberikannya balasan bagi pelakunya atas perbuatan itu". [Lihat Ruh Al-Ma’aniy (3/215)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita telah mengetahui kebatilan agama selain Islam, maka tak layak bagi kita dan anak-anak kita untuk berbangga, meniru, dan memuji orang-orang kafir itu, dan gaya hidup mereka, apalagi sampai memilih agama mereka sebagai pedoman hidup !! Jauhkanlah anak-anak kita dari orang-orang kafir, jangan sampai mereka bangga dengan orang-orang kafir. Bersihkanlah mulut dan telinga mereka dari istilah-istilah orang-orang kafir, dan paganisme dengan jalan membersihkan rumah kita dari benda pembawa petaka (televisi) yang berisi tayangan yang mendangkalkan, bahkan menghanguskan agama. Kita harus baro’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir, dan sembahan-sembahan mereka,&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja". (QS. Al-Mumtahanah: 04).&lt;br /&gt;Ayat ini mengajarkan kepada kita agar punya pendirian terhadap orang-orang kafir. Kita harus tegas dalam menampakkan keyakinan kita. Jangan malah kita yang bangga dan tertipu dengan kekafiran mereka, karena hanya sekedar kemajuan semu yang mereka capai di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri-negeri". (QS.Ali Imran : 196).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Para Ahli Tafsir, Abu Ja’far Ath-Thobariy-rahimahullah- berkata, "Allah -Ta’ala Dzikruh- melarang Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar jangan tertipu dengan bergerak (bebas)nya orang-orang kafir di negeri-negeri, dan penangguhan Allah bagi mereka, padahal mereka berbuat syirik, mengingkari nikmat-nikmat-Nya, dan beribadahnya mereka kepada selain-Nya". [Lihat Jami’ Al-Bayan (3/557)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jadi, bebasnya mereka di muka bumi ini, dan majunya mereka dalam segala lini kehidupan jangan membuat kita tertipu dengan mereka, sehingga akhirnya tak lagi mengingkari kekafiran mereka, dan malah memilih sikap toleran bersama mereka dalam urusan agama (aqidah, ibadah, akhlaq, dan lainnya).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sincan (Simbol Anak Durhaka)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Sincan adalah anak yang sering mendurhakai kedua orang tuanya, dia suka berbohong, mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar kepada kedua orang tuanya, dan suka membuat orang tuanya marah dan jengkel. Jadi, jangan heran kalau banyak anak-anak yang meniru watak Sincan tersebut, karena telah terpengaruh oleh cerita kartun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;"Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". (QS. Al-Isroo’: 23 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebutkan diantara dosa-dosa besar,&lt;br /&gt;"Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua". Kemudian Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- duduk -sebelumnya bersandar- sambil bersabda, "Ingatlah, dan juga perkataan dusta". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2511), Muslim Shohih-nya (87), At-Tirmidziy Sunan-nya (1901), Ahmad Musnad-nya (20401)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Amr Ibnush Sholah-rahimahullah- berkata, "Mungkin bisa dikatakan, Taat kepada kedua orang tua adalah wajib dalam segala sesuatu yang bukan maksiat; menyelisihi perintah keduanya dalam hal itu adalah kedurhakaan". [Lihat Umdah Al-Qoriy (13/216)]&lt;br /&gt;Jadi, termasuk dosa besar, jika seseorang mencela, membentak, merendahkan orang tuanya. Semua ini adalah bentuk-bentuk durhaka yang terlarang di dalam agama kita yang memiliki aturan yang amat sempurna !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah beberapa kesesatan film-film kartun tersebut. Namun kesalahan dan kesesatannya, sebenarnya masih banyak. Andaikan waktu dan tempat mencukupi, maka kami akan paparkan secara rinci sesuai tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah. Tapi sesuatu yang tak bisa dikerja dominannya, ya jangan ditinggalkan semuanya. Semoga pada waktu yang lain kami akan bahas kembali, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 38 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://almakassari.com/?p=186&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-7270767187676595638?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/7270767187676595638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/membongkar-kesesatan-doraemon-cs.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/7270767187676595638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/7270767187676595638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/membongkar-kesesatan-doraemon-cs.html' title='Membongkar Kesesatan Doraemon Cs'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-1908567560483749549</id><published>2009-01-28T01:58:00.003+07:00</published><updated>2009-02-06T01:37:38.071+07:00</updated><title type='text'>Unduh File</title><content type='html'>Link Untuk mengunduh file&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/3319775/kirim.doc.html"&gt;hasil scanner&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://uploading.com/files/FHE253HT/kirim.zip.html"&gt;hasil scanner *new&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cara" membuat wapsite :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://uid1900871.nireblog.com/post/2008/05/21/cara-mudah-membuat-wapsite-lewat-hp"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://herubudiarso.wordpress.com/2008/11/14/cara-membuat-wapsite/"&gt;2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tutorial-jitu.blogspot.com/2008/06/membuat-wapsiteblog-di-handphone.html"&gt;3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Inggris : &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.mobilemo.com/wap/make-wap-site.htm"&gt;1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sciensephilosophy.blogspot.com/2009/01/make-wap-site.html"&gt;3&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kevinboone.com/wap.html"&gt;4&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-1908567560483749549?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/1908567560483749549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/unduh-file.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1908567560483749549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1908567560483749549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/unduh-file.html' title='Unduh File'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-2674228188292238259</id><published>2009-01-26T20:39:00.007+07:00</published><updated>2009-01-31T00:51:41.742+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kampar'/><title type='text'>Adat Uang Ocu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm4.static.flickr.com/3325/3225993908_bfb9ae1fc4_o.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 292px; height: 166px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3325/3225993908_bfb9ae1fc4_o.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bakukuk ayam bauk biak busuk asal lauk.&lt;br /&gt;Biak gontiong asal jan putui.&lt;br /&gt;Po bilo jaghi indak mandapek uang bongi kasodonyo.&lt;br /&gt;(pepatah ocu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hayo kan, dek nasi la tasonduk, dek ayu la tatuang, mo la awak ansu makan.&lt;br /&gt;(basiacung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak siontak taontak ujung boghe, kok pandai kau maontak cukuikkan limo bole.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intro du tuk ocu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman ditujukan kepada semua orang ocu yang punya dedikasi tinggi. Ditunggu kontribusinya untuk mengangkat budaya ocu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Waktu teringat dengan kampung halaman (ocu), rencana nak nostalgia, mako, dicubo la mancaghi sudo informasi tentang ocu di gugel. Tapi indak ado yang didapek do, kecuali situs resmi kampar, friendster.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Mo la awak ansu untuk mengangkek budaya ocu ke dunia maya&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari situ, terniat la dek ambo untuk mendokumentasikan semua yang berhubungan dengan kampar.&lt;br /&gt;Ambo mancaghi nsanak yang nauo/punyo dokumentasi tentang kebudayaan kampar.&lt;br /&gt;- Bahasa&lt;br /&gt;- Adat Istiadat&lt;br /&gt;- Sejarah&lt;br /&gt;- Seni budaya&lt;br /&gt;- dll&lt;br /&gt;Untuk kita jadikan arsip di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-2674228188292238259?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/2674228188292238259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/adat-uang-ocu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/2674228188292238259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/2674228188292238259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/adat-uang-ocu.html' title='Adat Uang Ocu'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-8255059244114941476</id><published>2009-01-26T00:11:00.006+07:00</published><updated>2009-01-26T00:49:06.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kampar'/><title type='text'>Nostalgia Kampar</title><content type='html'>Postingan ini untuk mengingat Kampar saat ini.&lt;br /&gt;Gallery foto tentang kampar bisa di lihat di blog ini bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber foto :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;galeri foto situs kampar (http://kamparkab.go.id/index.php/in/galery-foto)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;galeri foto friendster kampar (http://profiles.friendster.com/17583104)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-8255059244114941476?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/8255059244114941476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/nostalgia-kampar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/8255059244114941476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/8255059244114941476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/nostalgia-kampar.html' title='Nostalgia Kampar'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-3770537290229414377</id><published>2009-01-26T00:07:00.001+07:00</published><updated>2009-01-26T00:10:02.850+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kampar'/><title type='text'>Sejarah Kampar</title><content type='html'>Berdasarkan surat keputusan Gubernur Militer Sumatera Tengah Nomor : 10/GM/STE/49 tanggal 9 Nopember 1949, Kabupaten Kampar merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Propinsi Riau terdiri dari Kawedanaan Palalawan, Pasir Pangarayan, Bangkinang dan Pekanbaru Luar Kota dengan ibu kota Pekanbaru. Kemudian berdasarkan Undang-undang No. 12 tahun 1956 ibu kota Kabupaten Kampar dipindahkan ke Bangkinang dan baru terlaksana tanggal 6 Juni 1967.&lt;br /&gt;Semenjak terbentuk Kabupaten Kampar pada tahun 1949 sampai tahun 2006 sudah 21 kali masa jabatan Bupati Kepala Daerah. Sampai Jabatan Bupati yang keenam (H. Soebrantas S.) ibu kota Kabupaten Kampar dipindahkan ke Bangkinang berdasarkan UU No. 12 tahun 1956.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adapun faktor-faktor  yang mendukung pemindahan ibu kota Kabupaten Kampar ke Bangkinang antara lain :&lt;br /&gt;Pekanbaru sudah menjadi ibu kota Propinsi Riau.&lt;br /&gt;Pekanbaru selain menjadi ibu kota propinsi juga sudah menjadi Kotamadya.&lt;br /&gt;Mengingat luasnya daerah Kabupaten Kampar sudah sewajarnya ibu kota dipindahkan ke Bangkinang guna meningkatkan efisiensi pengurusan pemerintahan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Prospek masa depan Kabupaten Kampar tidak mungkin lagi dibina dengan baik dari Pekanbaru.&lt;br /&gt;Bangkinang terletak di tengah-tengah daerah Kabupaten Kampar, yang dapat dengan mudah untuk melaksanakan pembinaan ke seluruh wilayah kecamatan dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://kamparkab.go.id/index.php/in/profil-kampar/sejarah-kampar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-3770537290229414377?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/3770537290229414377/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/sejarah-kampar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3770537290229414377'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/3770537290229414377'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/sejarah-kampar.html' title='Sejarah Kampar'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-5683223682160835385</id><published>2009-01-25T23:20:00.004+07:00</published><updated>2009-01-26T04:58:11.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Fatwa Tentang Nyanyian</title><content type='html'>Oleh: Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Kepada Yang Mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi dan Ketua Lembaga Ulama Besar serta Komisi Tetap Penelitian Ilmiyah dan Fatwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terhormat Syaikh Abdull Aziz bin Baz Rahimahullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Warrohmatullahi Wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hukum nyanyian, haramkah atau tidak? Meskipun dalam kenyataan saya mendengarkannya dengan maksud hanya untuk hiburan? Dan apakah hukum memainkan alat musik biola dengan nyanyian-nyanyian klasik? Apakah membunyikan genderang dalam pernikahan diharamkan? Namun saya mendengar bahwa hal tersebut halal ataukah bagaimana hukumnya saya tidak mengerti. Semoga Allah memberikan ganjaran serta mengarahkan langkah anda sekalian ke jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya mendengarkan nyanyian adalah haram dan mungkar, serta merupakan penyakit hati dan menyebabkan mengerasnya hati, juga menghalangi dari berdzikir kepada Allah dan shalat. Kebanyakan ahli ilmu telah menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Dan di antara manusia ada orang yang menjual perkataan yang tidak berguna ” (Luqman:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lahwa Al_Hadits” (perkataan yang tidak berguna) ditafsirkan dengan “nyanyian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu Anhu bersumpah bahwasanya yang dimaksudkan “Lahwa Al-Hadits” adalah “nyanyian”. Dan apabila bersama nyanyian tersebut dimainkan alat musik seperti rebana, mandolin, biola dan genderang maka menjadi bertambah sangat keharamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama menyatakan bahwa nyanyian dengan alat musik diharamkan sama sekali. Maka kewajiban kita memperingatkan hal tersebut dan hal ini benar karena Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya (yang artinya):”Sungguh akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan bunyi-bunyian yang merdu (musik dan nyanyian)” (hadits shahih riwayat Bukhari dan Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mewasiatkan kepada anda serta semuanya untuk mengalihkan kesibukan dengan kegiatan yang bermanfaat sebagai ganti mendengarkan nyanyian dan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pernikahan, maka disyariatkan padanya untuk membunyikan rebana dengan nyanyian yang biasa digunakan, yaitu nyanyian yang di dalamnya tidak ada ajakan kepada perbuatan yang haram dan tidak ada pula pujian yang diharamkan. Pada waktu malam pengantin, khusus bagi wanita untuk mengumumkan pernikahan serta untuk membedakan antara pernikahan dengan perzinaan, sebagaimana dibenarkan melakukannya di dalam sunnah Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapaun gendang dalam pesta pernikahan tidak diperbolehkan, akan tetapi cukup hanya dengan rebana. Dan tidak boleh menggunakan pengeras suara dalam mengumumkan nikah. Adapun yang disebut dalam nyanyian-nyanyian yang biasa digunakan dalam pernikahan, yaitu: nyanyian yang tidak mengandung fitnah dan akibat yang buruk serta tidak menyakiti muslimin. Juga tidak boleh memperpanjang waktu, tetapi cukup dengan waktu singkat yang telah dapat mencapai maksud pengumuman nikah. Karena memperpanjang waktu akan menyebabkan hilangnya shalat fajr yaitu tidak bisa menunaikan pada waktunya karena tidur. Dan itu merupakan perbuatan haram yang sangat besar dan merupakan perbuatan orang-orang munafik.&lt;br /&gt;Diambil dari kitab “Fatawa Hammah wa Risalah fii sifati Sholatin Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam”&lt;br /&gt;oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin&lt;br /&gt;sumber: majalah dinding AL-ILMU&lt;br /&gt;Majelis Ta’lim Salafy STT Telkom Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/23/fatwa-tentang-nyanyian/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-5683223682160835385?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/5683223682160835385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/oleh-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5683223682160835385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/5683223682160835385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/oleh-asy-syaikh-abdul-aziz-bin-baaz.html' title='Fatwa Tentang Nyanyian'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-1513279392054818110</id><published>2009-01-23T08:07:00.011+07:00</published><updated>2009-01-26T04:58:19.528+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Siapa Saja Mahram itu?</title><content type='html'>Ada beberapa pertanyaan yang masuk seputar permasalahan muhrim, demikian para penanya menyebutnya, padahal yang mereka maksud adalah mahram. Perlu diluruskan bahwa muhrim dalam bahasa Arab adalah muhrimun, mimnya di-dhammah yang maknanya adalah orang yang berihram dalam pelaksanaan ibadah haji sebelum tahallul. Sedangkan mahram bahasa Arabnya adalah mahramun, mimnya di-fathah.&lt;br /&gt;Mahram ini berasal dari kalangan wanita, yaitu orang-orang yang haram dinikahi oleh seorang lelaki selamanya (tanpa batas). (Di sisi lain lelaki ini) boleh melakukan safar (perjalanan) bersamanya, boleh berboncengan dengannya, boleh melihat wajahnya, tangannya, boleh berjabat tangan dengannya dan seterusnya dari hukum-hukum mahram.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mahram sendiri terbagi menjadi tiga kelompok, yakni mahram karena nasab (keturunan), mahram karena penyusuan, dan mahram mushaharah (kekeluargaan kerena pernikahan).&lt;br /&gt;Kelompok pertama, yakni mahram karena keturunan, ada tujuh golongan:&lt;br /&gt;1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;2. Anak perempuan (putri), cucu perempuan dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;3. Saudara perempuan sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;4. Saudara perempuan bapak (bibi), saudara perempuan kakek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;5. Saudara perempuan ibu (bibi), saudara perempuan nenek (bibi orang tua) dan seterusnya ke atas baik sekandung, seayah atau seibu&lt;br /&gt;6. Putri saudara perempuan (keponakan) sekandung, seayah atau seibu, cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;7. Putri saudara laki-laki sekandung, seayah atau seibu (keponakan), cucu perempuannya dan seterusnya ke bawah baik dari jalur laki-laki maupun wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka inilah yang dimaksudkan Allah subhanahu wa ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ&lt;br /&gt;"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan…" (An-Nisa: 23)&lt;br /&gt;Kelompok kedua, juga berjumlah tujuh golongan, sama dengan mahram yang telah disebutkan pada nasab, hanya saja di sini sebabnya adalah penyusuan. Dua di antaranya telah disebutkan Allah subhanahu wa ta'ala:&lt;br /&gt;وَأُمَّهَاتُكُمُ الاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ&lt;br /&gt;"Dan (diharamkan atas kalian) ibu-ibu kalian yang telah menyusukan kalian dan saudara-saudara perempuan kalian dari penyusuan." (An-Nisa 23)&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa seorang wanita yang menyusui seorang anak menjadi mahram bagi anak susuannya, padahal air susu itu bukan miliknya melainkan milik suami yang telah menggaulinya sehingga memproduksi air susu. Ini menunjukkan secara tanbih bahwa suaminya menjadi mahram bagi anak susuan tersebut . Kemudian penyebutan saudara susuan secara mutlak, berarti termasuk anak kandung dari ibu susu, anak kandung dari ayah susu, serta dua anak yang disusui oleh wanita yang sama. Maka ayat ini dan hadits yang marfu':&lt;br /&gt;يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ&lt;br /&gt;"Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena punyusuan." (Muttafaqun 'alaihi dari Ibnu 'Abbas), keduanya menunjukkan tersebarnya hubungan mahram dari pihak ibu dan ayah susu sebagaimana tersebarnya pada kerabat (nasab). Maka ibu dari ibu dan bapak (orang tua) susu misalnya, adalah mahram sebagai nenek karena susuan dan seterusnya ke atas sebagaimana pada nasab. Anak dari orang tua susu adalah mahram sebagai saudara karena susuan, kemudian cucu dari orang tua susu adalah mahram sebagai anak saudara (keponakan) karena susuan, dan seterusnya ke bawah.&lt;br /&gt;Saudara dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi karena susuan, saudara ayah/ ibu dari orang tua susu adalah mahram sebagai bibi orang tua susu dan seterusnya ke atas.&lt;br /&gt;Adapun dari pihak anak yang menyusu, maka hubungan mahram itu terbatas pada jalur anak keturunannya saja. Maka seluruh anak keturunan dia, berupa anak, cucu dan seterusnya ke bawah adalah mahram bagi ayah dan ibu susunya.&lt;br /&gt;Hanya saja, berdasar pendapat yang paling kuat (rajih), yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa'di, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikhuna (Muqbil) rahimahumullahu, bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah yang berlangsung pada masa kecil sebelum melewati usia 2 tahun, berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:&lt;br /&gt;وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ&lt;br /&gt;"Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama 2 tahun penuh bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuannya." (Al-Baqarah: 233)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Hadits 'Aisyah radhiallahu 'anha muttafaqun 'alaihi bahwa penyusuan yang mengharamkan adalah penyusuan yang berlangsung karena rasa lapar dan hadits Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa (no. hadits 2150) bahwa tidak mengharamkan suatu penyusuan kecuali yang membelah (mengisi) usus dan berlangsung sebelum penyapihan.&lt;br /&gt;Dan yang diperhitungkan adalah minimal 5 kali penyusuan. Setiap penyusuan bentuknya adalah: bayi menyusu sampai kenyang (puas) lalu berhenti dan tidak mau lagi untuk disusukan meskipun diselingi dengan tarikan nafas bayi atau dia mencopot puting susu sesaat lalu dihisap kembali.&lt;br /&gt;Adapun kelompok ketiga, jumlahnya 4 golongan, sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek dan seterusnya ke atas berdasarkan surat An-Nisa ayat 23.&lt;br /&gt;2. Istri anak, istri cucu dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;3. Ibu mertua, ibunya dan seterusnya ke atas berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;4. Anak perempuan istri dari suami lain (rabibah) , cucu perempuan istri baik dari keturunan rabibah maupun dari keturunan rabib, dan seterusnya ke bawah berdasarkan An-Nisa: 23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor 1, 2 dan 3 hanya menjadi mahram dengan akad yang sah meskipun belum melakukan jima' (hubungan suami istri). Adapun yang keempat maka dipersyaratkan bersama dengan akad yang sah dan harus terjadi jima', dan tidak dipersyaratkan rabibah itu harus dalam asuhannya menurut pendapat yang paling rajih yaitu pendapat jumhur dan dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullahu.&lt;br /&gt;Dan mereka tetap sebagai mahram meskipun terjadi perceraian atau ditinggal mati, maka istri bapak misalnya tetap sebagai mahram meskipun dicerai atau ditinggal mati. Dan Rabibah tetap merupakan mahram meskipun ibunya telah meninggal atau diceraikan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Selain yang disebutkan di atas, maka bukan mahram. Jadi boleh seseorang misalnya menikahi rabibah bapaknya atau menikahi saudara perempuan dari istri bapaknya dan seterusnya.&lt;br /&gt;Begitu pula saudara perempuan istri (ipar) atau bibi istri, baik karena nasab maupun karena penyusuan maka bukan mahram, tidak boleh safar berdua dengannya, berboncengan sepeda motor dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, berjabat tangan, dan seterusnya dari hukum-hukum mahram tidak berlaku padanya. Akan tetapi tidak boleh menikahinya selama saudaranya atau keponakannya itu masih sebagai istri hingga dicerai atau meninggal. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ&lt;br /&gt;"Dan (haram atasmu) mengumpulkan dua wanita bersaudara sebagai istri (secara bersama-sama)." (An-Nisa: 23)&lt;br /&gt;Dan hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu muttafaqun 'alihi bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mengumpulkan seorang wanita dengan bibinya sebagai istri secara bersama-sama. Wallahu a'lam bish-shawab.&lt;br /&gt;(Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As-Sa'di, Syarhul Mumti', 5/168-210)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=162&lt;br /&gt;http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=463&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-1513279392054818110?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/1513279392054818110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/siapa-saja-mahram-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1513279392054818110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1513279392054818110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/siapa-saja-mahram-itu.html' title='Siapa Saja Mahram itu?'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-6306656855447548944</id><published>2009-01-22T21:16:00.005+07:00</published><updated>2009-01-26T04:58:23.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Hukum Permainan Catur</title><content type='html'>HUKUM PERMAINAN CATUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikoreksi&lt;br /&gt;Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih Fauzan Abdullah Al-Fauzan berkata dalam kitab beliau "Al-I'lam Bi Naqdi Kitab Al-Halal wa Al-Haram" pada pasal koreksi 9 : Permainan Catur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis (Yusuf Al-Qardhawi) pada halaman 217 menjelaskan tentang perselisihan ulama mengenai hukum permainan catur. Lalu penulis memilih pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya mubah (boleh). Penulis juga mengomentari : “Menurut pengatahuan kami bahwa catur itu menurut asalnya adalah mubah, sebab tidak ada dalil yang menunjukkan keharaman catur melebihi dari perbuatan lahwun dan hiburan yang ada. Catur merupakan olah raga pikiran dan melatih berfikir”. Kemudian penulis menjelaskan syarat-syarat kebolehan main catur antara lain :&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;[1]. Tidak mengundur-ngundur waktu shalat&lt;br /&gt;[2]. Tidak disertai dengan judi&lt;br /&gt;[3]. Hendaknya pemain dapat menjaga lisannya dari omongan kotor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Kami jawab, bahwa persyaratan itu jarang ditaati oleh pamain catur. Misalnya kita terima mereka dapat memenuhi persyaratan tersebut. Maka dengan dibolehkan permainan catur itu, akan menuju hal yang haram dan akhirnya akan dia ingkari persyaratan tersebut, karena itu kita harus berpegang kepada qaul (pendapat) yang mengatakan bahwa catur hukumnya haram. Banyak sekali para ulama mengharamkan permainan catur. Antara lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau berbicara panjang di dalam masalah ini, mulai halaman 216 sampai halaman 245 jilid XXXII dari kitab Majmu Fatawa. Perlu kami petikkan sebagian, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Misalnya kita tetapkan bahwa permainan catur itu bebas dari itu semua –maksudnya tidak melalaikan kewajiban dan tidak akan melakukan hal yang haram- maka larangan perbuatan itu ditetapkan oleh sahabat. Sebagaimana yang shahih dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah menjumpai kaum yang sedang bermain catur. Lalu beliau mengatakan “Mengapa kamu beri’tikaf berdiam merenungi patung-patung ini”. Sahabat Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu menyamakan mereka itu seperti orang yang beriti’kaf kepada patung, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Peminum khamer itu seperti penyembah patung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal khamer dan judi itu selalu bergandengan disebut di dalam Al-Qur’an. Demikian juga larangan itu dinyatakan oleh Ibnu Umar dan yang lain, Imam Hanafi serta shabatnya mengharamkan permainan catur. Adapun Imam Syafi’i beliau pernah berkata : “Permainan yang paling aku benci yaitu obrolan, permainan catur dan permainan burung dara sekalipun tanpa perjudian. Sekalipun kebencian kami kepada permainan itu lebih ringan dari pada permainan dadu …” Sampai kepada perkataan Syaikhul Islam, “Demikianlah kami nukil dari Imam Asy-Syafi’i. Dan ada lagi lafadz semakna tadi bahwa beliau membenci atau menganggap makruh hukum permainan catur dan nilainya dibawah daripada permainan dadu adalah hukumnya haram muthlaq sekalipun tidak disertai taruhan uang. Karena itu Imam Asy-Syafi’i menegaskan, kabar yang paling aku benci …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah sandaran beliau adalah kepada kabar (khabar), beliau sendiri menolak qiyas. Inilah yang menjadi alasan jumhur, kalau beliau mengharamkan dadu sekalipun tanpa taruhan apa-apa. Maka catur –sekalipun tidak seperti dadu- tapi bukan berarti tidak termasuk dadu. Hal ini dapat diketahui dari makna sebenarnya permainan itu. Sebab permainan –termasuk dadu- tetap menghalang-halangi untuk mengingat kepada Allah dan shalat, serta pemusuhan dan kemarahan yang diakibatkan catur banyak sekali. Disamping itu permainan ini selalu membuat jiwa untuk meraih piala, lagi membendung akal dan hati untuk ingat kepada Allah dan shalat. Bahkan minum khamer dan ganja, awalnya sedikit tetapi akan menimbulkan ketagihan. Maka keharaman dadu yang tidak disertai taruhan dan dibolehkannya permainan catur seperti keharaman setetes khamer dari anggur tapi dihalalkan satu ciduk arak yang terbuat dari gandum. Perkataan itu juga sangat bertentangan bila ditinjau dari segi ungkapan, qiyas dan keadilan. Demikian juga masalah catur..”. Sampai perkataan Syaikh Ibnu Taimiyah : “Dadu, catur dan semisalnya pada umumnya mengandung kerusakan yang tidak terhitung banyaknya, tidak ada maslahahnya. Lebih-lebih maslahah untuk melawan kelalaian jiwa dan keresahan, sebagaimana yang menimpa kepada peminum khamer. Sebenarnya untuk mencari ketenangan jiwa dengan perkara mubah yang tidak membendung perkara yang baik dan tidak mendatangkan kerusakan banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mukmin sudah dicukupi oleh Allah yaitu dengan memilih yang halal dari yang haram dan dimuliakan oleh Allah dari pada yang lain. FirmanNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan Allah akan memberi rizki yang tak terhitung banyaknya” [Ath-Tholaq : 2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sunnan Ibnu Majah dan lainnya, dari Abu Dzar, sesungguhnya ayat ini tatkala turun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Hai Abu Dzar jikalau semua manusia itu mau mengamalkan ayat ini, niscaya mereka memperolah kelapangan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ayat ini, bahwa orang yang bertaqwa terhindar dari bahaya, yaitu Allah menjadikan baginya jalan keluar apa yang menjadi kesulitannya. Dia akan mendapat rahmat dan mendapatkan rizki yang tak terhitung banyaknya. Selanjutnya setiap sesuatu yang dapat menenangkan jiwa yang hidup ini dan dapat melapangkannya maka termasuk rizki. Allah memberi rizki yang demikian itu bagi mereka yang mau bertaqwa dengan mengamalkan perintahnya dan meninggalkan larangannya. Lalu barangsiapa yang masih mencari ketenangan jiwa dengan minum khamer. Pecandu khamer mulanya ingin mencari ketenangan, tetapi tidaklah menambah ketenangan melainkan keletihan dan keresahan. Memang khamer itu dapat menggembirakan pecandunya tetapi sangat sedikit. Sedangkan bahaya yang mengancam dirinya lebih besar. Demikianlah hasil bagi mereka yang telah mencobanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Ibnu Taimiyah menjelaskan didalam pembahasan yang lain, yaitu ketika beliau menyebutkan hukum permainan dadu dan catur tanpa taruhan dan tidak melalaikan kewajiban serta tidak mengerjakan larangan Allah. Jika memang benar-benar demikian, maka Manhaj Salaf, Jumhur Ulama seperti Imam Malik dan para sahabatnya, Abu Hanifah dan para sahabatnya, Imam Ahmad bin Hambal dan sahabatnya dan kebanyakan pengikut madzhab Syafi’i tidak memastikannya halal tetapi beliau memakruhkannya. Adalagi yang mengatakan, bahwa Imam Syafi’i berkata, “Saya belum tahu jelas keharamnnya”. Sedangkan Imam Baihaqi orang paling tahu diantara sahabat Syafi’i, menjelaskan Ijma sahabat akan keharaman permainan tadi, berdasarkan riwayat dari Ali bin Abu Thalib, Abu Said, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Musa dan Aisyah Radhiyallahu ‘anhum. Dan tidak diriwayatkan dari seorang sahabatpun tentang masalah tersebut pertentangan. Dan barang siapa menukil dari salah seorang diantara sahabat bahwa dia meringankan masalah itu, maka tidak benar. Karena Imam Baihaqi dan lainnya dari kalangan Ahli Hadits labih tahu tentang ucapan sahabat daripada manusia-manusia yang menukil fatwa tanpa sanad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai pembaca, coba perhatikan fatwa Ibnu Taimiyah tentang hukum catur, beliau menjelaskan, “Permainan itu tidak ada manfaatnya, apabila untuk mencapai ketenangan jiwa sebagaimana yang diharapkan oleh peminum khamer. Padahal perkara lain yang mubah untuk menenangkan jiwa tanpa menghambat ibadah dan mendatangkan kerusakan tidak sedikit”. Lalu bandingkanlah wahai pembaca dengan fatwanya penulis (Syaikh Yusuf Qardhawy), beliau mengatakan : “Bahwa permainan catur itu bukan termasuk lahwun tetapi hiburan untuk melatih berfikir dan kecerdasan otak”. Coba anda bisa menimbang dua perkataan diatas, mana yang lebih benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya perhatikan lagi fatwa Ibnu Taimiyah : “Imam Baihaqi paling tahu tentang hadits diantara pengikut Syafi’i. Beliau menjelaskan bahwa sahabat telah sepakat mengharamkan permainan catur itu. Tidak ada seorangpun yang menentang pendapatnya dalam hal ini. Siapa yang mengatakan bahwa ada salah seorang shahabat membolehkan permainan ini maka itu adalah salah”. Lalu bandingkan dengan fatwa penulis yang mengatakan “Adapun para shahabat, mereka berbeda pendapat dalam hukum catur ini”. Kemudian penulis menjelaskan bahwa Ibnu Abbas dan Abu Hurairah membolehkannya. Wahai pembaca, siapa yang lebih layak mengetahui qaul shahabat, Syaikh Ibnu Taimiyah dan Imam Baihaqi ataukah penulis ??! Wallahu Al-Muata’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Qurthuby didalam tafsirnya VII/339 menjelaskan : Ibnul Araby berkata : Mereka itu beralasan dengan perkataan shahabat dan tabi’in, bahwa mereka itu bermain catur. Padahal sama sekali tidak. Demi Allah tidak akan bermain catur orang yang betaqwa kepada Allah. Memang mereka juga mengatakan bahwa permainan catur itu dapat mengasah otak, padahal menurut kenyataan tidak demikian. Sama sekali tidak menambah kecerdasan seseorang. Ingat wahai pembaca, bahwa Ibnul Araby menolak adanya para shahabat dan tabi’in bermain catur, bahkan diapun berani bersumpah. Imam Qurthuby-pun mengambil fatwanya sebagai pegangan[1]. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab Majmu Fatawa XXXII/241 menjelaskan : Imam Baihaqi meriwayatkan hadits dengan sanadnya dari Ja’far bin Muhammad dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mengatakan : “Catur itu perjudian orang asing”. Beliaupun meriwayatkan lagi dengan sanadnya dari Ali, bahwa ia pernah melewati kaum yang sedang bermain catur, lalu beliau menegurnya : “Mengapa kamu menekuni patung ini? Sungguh jika salah satu diantara kamu menggemgam bara api sampai padam itu lebih baik daripada memegang catur”. Dan dari Ali Radhiyallahu ‘anhu pula, bahwa ia pernah melewati salah satu majlis, mereka bermain-main catur lalu dia berkata :”Demi Allah bukanlah kalian diciptakan untuk ini, ingatlah demi Allah, jikalau catur ini bukan menjadi tradisi, tentu aku akan lempar wajahmu dengan catur itu”. Dari Malik ia berkata :”Telah sampai kepada kami suatu berita bahwa Ibnu Abbas mengurusi harta anak yatim itu, lalu membakarnya. [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar, dia pernah ditanya tentang catur, lalu ia menjawab : “Catur itu lebih jahat daripada dadu”. Dari Abu Musa Al-Asy’ary berkata : “Tidak akan bermain catur kecuali orang yang keliru”. Adalagi riwayat dari Aisyah bahwa dia membenci perkara yang melelahkan sekalipun tidak memakai taruhan. Abu Sa’id Al-Khudriy juga membenci permainan itu. Inilah qaul dari para shahabat, dan tidak ada satupun dari mereka yang berselisih pendapat tentangnnya. Selanjutnya Imam Baihaqy meriwayatkan tentang kebencian bermain catur dari Yazid bin Abu Habib dan Muhammad bin Sirin. Ibrahim dan Malik bin Anas, kami mengatakan : “Istilah karohah (dibenci) banyak dipakai ulama Salaf, dan umumnya mempunyai arti haram. Merekapun sudah menjelaskan bahwa catur itu hukumnya haram. Bahkan mereka menambahkan bahwa catur itu lebih jelek daripada dadu, sedangkan dadu itu hukumnya haram sekalipun tidak memakai taruhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari dari buku Al-I'lam Bi Naqdi Kitab Al-Halal wa Al-Haram, edisi Indoensia Kritik terhadap buku: Halal dan Haram dalam Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Penerbit Pustaka Istiqamah Solo]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Berkata Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Fruusiyah, “Telah shahih dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar bahwa keduanya melarang permainan catu. Dan tidak seorangpun dari shahabat yang mengatakan berbeda tentang hal itu. Allah melindungi mereka dari perbuatan tersebut. Dan barangsiapa yang menyatakan bahwa salah seorang diantara mereka bermain dengannya, seperti Abi Hurairah, maka hal itu merupakan perkataan mengada-ada dan dusta atas mereka. Dimana orang-orang yang mengerti keadaan shahabat dan atsar maka akan mengingkarinya. Bagaimana mungkin sebaik-baik qurun dan makhluk setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan sesuatu yang dapat menghalang-halangi dari mengingat kepada Allah dan Shalat ?!?&lt;br /&gt;[2]. Yakni permainan catur yang terdapat pada harta anak yatim itu. Demikianlah keadaan Ibnu Abbas yang dikatakan oleh Qardhawi menyatakan bolehnya bermain catur, membuangnya dari harta anak yatim tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : almanhaj.or.id&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-6306656855447548944?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/6306656855447548944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/hukum-boneka-dan-gambar-untuk-tujuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6306656855447548944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/6306656855447548944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/hukum-boneka-dan-gambar-untuk-tujuan.html' title='Hukum Permainan Catur'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-1501361617280218549</id><published>2009-01-21T15:24:00.003+07:00</published><updated>2009-01-26T04:58:28.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Umamah Bintu Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anha</title><content type='html'>Bagaimana takkan bahagia merasakan kasih sayang seorang yang begitu mulia, menjadi panutan seluruh manusia. Kisah buaian sang kakek dalam shalat menyisakan faedah besar bagi kaum muslimin di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainab, putri sulung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disunting pemuda Quraisy, Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’ bin ‘Abdil ‘Uzza bin ‘Abdi Syams bin ‘Abdi Manaf bin Qushay Al-Qurasyi namanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahi mereka dua orang anak, Umamah dan ‘Ali.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang masa kecilnya, Umamah bin Abil ‘Ash benar-benar merasakan kasih sayang sang kakek, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga suatu kali, para shahabat tengah duduk di depan pintu rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata beliau muncul dari pintu rumahnya sembari menggendong Umamah kecil. Beliau shalat sementara Umamah tetap dalam gendongannya. Jika beliau ruku’, beliau letakkan Umamah. Bila beliau bangkit, beliau angkat kembali Umamah. Begitu seterusnya hingga beliau menyelesaikan shalatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan hadiah. Di antaranya berupa seuntai kalung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memungutnya. “Aku akan memberikan kalung ini pada seseorang yang paling kucintai di antara keluargaku,” kata beliau waktu itu. Para istri beliau pun saling berbisik, yang akan memperoleh kalung itu pastilah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.&lt;br /&gt;Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Umamah, sang cucu. Beliau pakaikan kalung itu di leher Umamah. “Berhiaslah dengan ini, wahai putriku!” kata beliau. Lalu beliau usap kotoran yang ada di hidung Umamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abul ‘Ash meninggal, dia wasiatkan Umamah pada Az-Zubair ibnul ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu. Tahun terus berganti. Pada masa pemerintahan ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meminang Umamah. Az-Zubair ibnul ‘Awwam radhiyallahu ‘anhu pun menikahkan ‘Ali dengan Umamah. Namun dalam pernikahan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan seorang anak pun kepada mereka.&lt;br /&gt;‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah meminta Al-Mughirah bin Naufal Al-Harits bin ‘Abdil Muththalib Al-Hasyimi radhiyallahu ‘anhu agar bersedia menikah dengan Umamah bila dia telah wafat. ‘Ali pun berpesan pula kepada Umamah, bila dia meninggal nanti, dia ridha jika Umamah menikah dengan Al-Mughirah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh hari, 17 Ramadhan, 40 tahun setelah hijrah. Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan Umamah harus berpisah dengan suaminya. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, terbunuh oleh seorang Khawarij bernama ‘Abdurrahman ibnu Muljam dengan tikaman pedangnya.&lt;br /&gt;Selesai masa iddahnya, Umamah mendapatkan pinangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma. Umamah pun segera mengutus seseorang untuk memberitahukan hal ini kepada Al-Mughirah bin Naufal. “Kalau engkau mau, kau serahkan urusan ini padaku,” jawab Al-Mughirah. Umamah pun mengiyakan. Lalu Al-Mughirah meminang Umamah pada Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhuma yang kemudian menikahkan Al-Mughirah dengan Umamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan pada mereka seorang anak, Yahya ibnul Mughirah namanya. Namun tidak lama hidup bersisian dengan Al-Mughirah, Umamah bintu Abil ’Ash meninggal di masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ’anhuma.&lt;br /&gt;Umamah bintu Abil ‘Ash, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya ….&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://asysyariah.com/print.php?id_online=605&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-1501361617280218549?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/1501361617280218549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/umamah-bintu-abil-ash-radhiyallahu-anha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1501361617280218549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/1501361617280218549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/umamah-bintu-abil-ash-radhiyallahu-anha.html' title='Umamah Bintu Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anha'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3936575129283753457.post-8595547027146378254</id><published>2009-01-21T14:57:00.000+07:00</published><updated>2009-01-22T13:05:00.357+07:00</updated><title type='text'>Selamat Datang</title><content type='html'>Selamat datang di blog ocu abdul&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3936575129283753457-8595547027146378254?l=ocuabdul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ocuabdul.blogspot.com/feeds/8595547027146378254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/selamat-datang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/8595547027146378254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3936575129283753457/posts/default/8595547027146378254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ocuabdul.blogspot.com/2009/01/selamat-datang.html' title='Selamat Datang'/><author><name>Abdul Gafur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15926122865873373760</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
